Perjalanan satu hari di kota Metropolitan yang penuh dengan makanan hati. Seandainya kau lihat dengan penuh perasaan, maka akan hadir mereka yang sedang mengais penghidupan di depan matamu.
Jejak jalanan yang kumulai di Bogor dengan KRL adalah pengalaman pertama penuh dengan makna. Mengamati satu persatu air muka manusia yang tertidur, manusia yang berdiri gagah demi para lansia untuk duduk dibanding mereka yang masih memiliki kekuatan untuk berdiri, manusia yang sibuk dengan gawainya karena aturan KRL yang tidak boleh bersuara, manusia yang sibuk dengan buku-bukunya atau sekedar senyum pada anaknya. Berbagai kehidupan dan perasaan bersatu dalam sebuah kereta kecil lintas kota di Bogor.
Perjalananku mengantarkanku ke Stasiun Manggarai. Sibuk sekali rasanya. Aku rasakan panas tubuh manusia-manusia berlalu lalang, panas uap kereta, panas terik matahari kota Jakarta yang memang luar biasa menyengat. Tidak terhitung berapa manusia yang berjalan naik-turun, keluar-masuk untuk berusaha sampai di tempat yang diinginkan. Tak nyaman, berdesakan, namun beginilah sekiranya gambaran kehidupan metropolitan.
Sibuk.
Padat.
Penuh ambisi.
Selama perjalanan melihat warna-warni Jakarta, rasanya menyedihkan sekaligus mengharukan. Bagiku, sedikit sama dengan Bandung yang sudah mulai padat sesak oleh derau nafas-nafas kehidupan yang mencari penghidupan.
Ada banyak pasang mata dan kaki yang berjalan menyusuri jalanan besar. Mengangkut dagangan, menjajakan upaya untuk mendapatkan upah hari itu. Sebegitu kerasnya hidup, namun keyakinan mereka terhadap Tuhan adalah kekuatan paling besar agar tetap kokoh. Seberat apapun dipanggul.
Jakarta, bagiku kota penuh ambisi. Orang-orang bekerja, mengejar mimpinya di sebuah kota yang masih banyak menyimpan misteri kehidupan. Disamping keindahan Monas dan Perpusnas, ada pinggiran kumuh dengan aliran sungai yang tak lagi jernih. Kampung kumuh dengan banyak mural ilegal tak beraturan yang membuat tak nyaman mata.
Terlihat megah sekali gedung-gedung pencakar langit, benar-benar seperti berada di tempat penuh mimpi, namun entah samakah bagi mereka yang tak seberuntung kami.
Benarkah Jakarta semenakjubkan itu?

Tinggalkan komentar