,

Turning 23

Turning 23

Cukup banyak yang dibicarakan. Bersama kawan karib, bersama siapapun yang mulai mengerti bahwa ternyata menjadi dewasa tidaklah semenyenangkan ucapan masa kecil.

Iya, itu dulu, ketika masih kecil. Kita yang masih kerdil, mengharapkan menjadi orang dewasa karena berpikir hidup akan lebih mudah. Banyak uang, bisa naik motor, pergi ke tempat-tempat yang diinginkan, dan bahkan hang-out dengan teman-teman di kafe-kafe hits dan cozy.

Nyatanya, NOL. Hahahaha …

Kenapa harus aku katakan begitu? Karena, rupanya realita sedang berjalan mendekati kami yang sudah menginjak kepala dua.

Seringkali diskusi-diskusi dengan teman sebaya menjadi sebegitu seriusnya. Diskusi-diskusi yang menemani malam-malam, tentang kekhawatiran kita akan masa depan. Bahkan, yang semula hanya ‘mengkhawatirkan’ saja, berubah menjadi ‘kesadaran’ mengapa kita banyak khawatir.

Diskusi-diskusi panjang itu kemudian mengubah kami yang masih buta terhadap interaksi sosial menjadi begitu sadar, bahwa satu hal yang kami rasakan ketika mulai menjadi seorang SARJANA. Banyak ketidaknyamanan yang dirasakan dan tentu saja kaget. Bahkan, cerita kawan-kawanku, mereka rasanya ingin menangis menghadapi ketidaknyamanan itu.

Setelah melewati berminggu-minggu dengan ketidaknyamanan itu, sebagian dari kami bisa menarik satu kesimpulan.

Rasa ketidaknyamanan itu yang menjadi pintu gerbang untuk menumbuhkan jiwa dua puluhan kita yang lebih matang dan dewasa. Karena secara tidak langsung, rasa ketidaknyamanan itu memaksa kita untuk survive sekuat tenaga, memutar otak bagaimana agar hati kita bisa lebih leluasa menerima hal baru dan perbedaan yang ada. Bahkan, jatuh bangun untuk menampar diri sendiri bahwa hanya tersisa tiga bulan hingga Juli datang untuk membangun perasaan dan hati yang lebih lapang.

Selamat datang, masa dewasaku.

Masa remajaku saangaaaat indah, sampai tak ingin rasanya Juli nanti cepat datang.

Terimakasih, masa remajaku. Selamat tinggal.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai