Aku masih punya luka
Yang seringkali kambuh setiap kali teringat
Yang seringkali menghujam begitu dalam setiap kali orang lain membahasnya
Sampai rasanya aku ingin mati saja
Aku masih punya banyak penyesalan
Karena salahku yang saat itu tidak berani berkata “tidak” pada sesuatu yang tidak kuinginkan
Karena kepengecutanku yang tidak berani untuk menepis rasa takutku sendiri
Karena mengira bahwa menjadi penurut bisa memulihkan rasa tak nyamanku saat itu yang kukira hanya sesaat
Aku menyadari bahwa aku tak sepenuhnya lega dan lapang saat menginjak dewasa
Saat dunia mulai terasa nyata dan kesulitan dalam hati, pun diriku untuk menerima
Sampai terkadang aku merasa sia-sia dan tak berguna
Entah sampai kapan rasa sesal itu membara dalam hatiku
Entah sampai kapan aku bisa menerima hal-hal yang sudah terjadi yang tak kukehendaki
Entah sampai kapan aku bisa menerima kenyataan yang mungkin bisa saja kuubah saat itu
Dan entah sampai kapan aku akan berlarut dalam sesal dan sedih
Rabbisy rahlii shadrii …

Tinggalkan komentar