Terimakasih, Orang-Orang Baik

Tak banyak orang seperti beberapa temanku yang memilih untuk teguh pada pendiriannya. Teguh pada pilihannya untuk tetap menjadi disiplin dalam segala hal. Di tempat ini, tidak banyak orang yang masih sangat penuh kepeduliannya terhadap peraturan, disiplin bahkan kerelaan hati, pun aku yang masih seringkali menentang.

Satu hari, aku berbincang ringan dengan salah seorang temanku yang terbilang cukup alim, sebut saja ia dengan nama ‘Sal’. Pertanyaan ini aku ajukan padanya ketika masih semester 6 ketika kami sedang ‘mencari jaringan wifi’ bersama di perpustakaan. Aku bertanya, apakah ia akan membawa ‘wifi pribadi’ ketika semester akhir nanti dengan alasan skripsi? Jawaban dirinya benar-benar membuatku tertegun. Terdengar ‘alay’ dan berlebihan mungkin. Tapi bagiku, hal ini adalah sebuah titik balik pada prinsip diri yang kuat.

Dia menjawab, “Ra, ‘wifi pribadi’ kan, pada dasarnya dilarang. Ngerjain skripsi juga nyari berkahnya. Menurut ana, kita juga harus nyari berkahnya, apalagi untuk skripsi yang jadi ajang akademi kita. Jadi, ya diusahakan ana nggak akan bawa.” Setelah pernyataan itu, aku hanya tersenyum. Betapa hebat pemikirannya karena segala sesuatu yang dilandaskan dengan mencari berkah. Aku kagum sekali.

Di semester 7 ini, aku bertemu dirinya lagi di keadaan yang sama, namun dengan latar tempat yang berbeda, yaitu mencari ‘jaringan wifi’. Kita berbincang lagi, dengan topik yang berbeda, yaitu skripsi. Ia bercerita bahwa judulnya masih ditolak, dan saat itu juga, prodinya menginfokan bahwa judul skripsinya sudah diterima. Hamdalah, hamdalah dan hamdalah yang ia katakan. MaasyaAllah. Lalu, kita berbincang tentang rancangan masa depan setelah lulus S1. Asyik sekali.

Namun, beberapa kali aku sempat goyah dan kesal karena prinsip yang aku coba pertahankan tak didukung oleh lingkunganku. Teman-temanku yang juga satu nasib denganku, mereka yang mencoba bertahan untuk tidak membawa ponsel, mereka yang berusaha untuk tetap mematuhi peraturan, mereka yang berusaha keras untuk bisa terus menjadi baik, mereka yang terus berusaha keras untuk selalu mengikuti prosedural disiplin apapun, tak sedikitpun didukung oleh lingkungan yang lebih banyak melakukan sebaliknya.

Tapi, aku selalu kembali dengan perkataan Sal, bahwa kita hanya perlu mencari berkahnya. Cari berkahnya, dan teruslah menjadi orang baik. Tidak peduli siapapun yang berkata bahwa kau ‘sok alim’ atau menghujatmu apapun itu.

Terimakasih, Ya Allah. Kau dekatkan aku dengan orang-orang baik.

Terimakasih, Ya Allah. Kau berikan aku teman-teman yang bisa mengingatkanku pada kebaikan dunia dan akhirat.

Teruslah jadikan mereka sebagai pengingat lupaku. Anugerahi mereka Rahmat-Mu.

Amin.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai