Aku ingin kembali menulis tentang betapa hebatnya kekuatan waktu. Semoga, hal ini bukan menjadi sebuah kesombongan atau ajang pamer diri.
Kau tahu? Waktu luang kadang seringkali menjebak. Merenggut segala sesuatu yang seharusnya bisa kau lakukan dengan kebermanfaatan, meskipun manfaat itu hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Tapi tak apa, kebermanfaatan itu bisa kau beri untuk lingkunganmu kelak di satu hari di masa depan.
Pagi ini, tepatnya puku 05.30, aku dan temanku mencuci baju. Waktu dengan udara yang masih sangat segar dan sejuk. Nikmat sekali masih bisa menghirup udara pagi, bau embun dan semerbak bau tanah khas kala pagi. Temanku berkata, betapa ruginya orang-orang yang tidak bisa merasakan itu semua. Andai saja orang-orang memilih untuk bergerak lebih banyak, melihat bagaimana burung-burung terbang diatas langit yang masih penuh dengan embun bahkan kabut dingin tebal, merasakan air yang segar meskipun dingin, menghirup bau embun dan kemudian kau membayangkan betapa indahnya kesyukuran pagi.
Sedang mencuci, kita berbincang sedikit, bahwa pemikiran tentang ‘kegiatan pagi’ rupanya dipengaruhi bagaimana ‘pola pikir’ seseorang terbentuk. Tidak banyak ‘mungkin’ yang bisa berfikir betapa bermanfaatnya hidup di pagi hari. Kadang, aku pun sendiri harus memaksa diriku untuk bisa ‘konsisten’ dengan hal-hal yang sedang kulatih perlahan-lahan.
Jika aku ingin berkata pada diriku dan teman-temanku:
“Membangun kebiasaan untuk hidup ‘lebih baik’ itu tidak mudah. Kau harus memaksa dirimu untuk bisa melangkah perlahan. Pastikan dirimu keras untuk bersikap adil pada dirimu sendiri. Bersikap adil pada dirimu, bukan diartikan sebagai ‘terus berada dalam zona nyaman’. Kau harus berusaha untuk pergi, melihat dunia, mengamati berbagai seluk beluk diantara kerumunan manusia, menyapa satu per satu orang untuk memahami bagaimana manusia bekerja dengan akal sehat dan hatinya. Dari sana, kau akan mendapatkan banyak hikmah yang tak pernah kau temui sebelumnya. Jangan jadikan dirimu TERPAKU hanya dalam satu tempat, satu pandangan.”
Memaksa diri untuk berusaha keluar dari zonamu, berarti kau sedang berusaha mendaki untuk melawan dirimu sendiri. Teruslah mendaki, mendaki, mendaki lagi, dan mendaki sampai dirimu sudah cukup membaik dan tak sama di tempat sebelumnya. Lalu, jagalah kebiasaan, sikap dan hatimu di titik tertinggi tempat pendakianmu. Stabilkan tempatmu itu, rawat, konsistenlah, sampai kau merasa perlu mendaki (menjadi lebih baik) lagi dan mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa mengubah kehidupanmu.
Selama pendakian itu, carilah kawan yang bisa menjadikanmu manusia dengan ilmu yang luas. Carilah kawan yang kau rasa bisa membawamu pada cinta-Nya, mengajakmu pada kebaikan.
wa amilus shalihaati watawa saubil haqqi wa tawaa saubis sabr.
Maka, ketika dirimu merasa tidak lebih baik, mendakilah. Terus mendaki sampai kau bisa menjaga tempat tertinggi dari pendakianmu.

Tinggalkan komentar