Sulit rasanya menyesuaikan diri dengan bagian dari diriku yang tak ingin terus pada garis yang sama. Aku ingin keluar dari kekangan bagian ini, yang menjadikan duniaku sempit.
Beberapa hal yang ada di sekitarku, menjadikan mataku terbuka lebar betapa munafiknya mereka. Betapa jahatnya mereka mempermainkan diriku, yang sejatinya sudah terikat lama sekali oleh perjanjian. Aku cukup menyesal berada di tengah-tengah hiruk pikuk ini. Semakin aku tahu dalamnya hiruk pikuk ini, semakin aku membencinya. Semakin aku tak ingin mendengarkan satu patah kata atau bahkan perintah-perintah mereka. Semakin aku akan banyak mencari alasan betapa tak tahannya diriku menghadapi.
Aku sedang berusaha untuk mengurangi rasa ‘tak enakan’ yang sangat melekat pada diriku. Aku ingin belajar bagaimana menjadi orang ‘acuh’ dan ‘bodo amat’ terhadap sesuatu yang tak membawa manfaat untukku. Aku ingin belajar egois untuk mencapai apa yang harusnya aku bisa capai. Aku ingin belajar sedikit tak peduli tentang apa yang mengganggu kenyamanan dalam kesendirianku.
Namun, rupanya berbagai perasaan yang aku inginkan untuk dipelajari tampak tak hadir dengan rela hati. Aku masih seringkali merasa ‘tak enakan’ hingga kadang terlalu banyak berkorban. Bukan hanya berkorban waktu, tapi diri dan hati. Sejujurnya, aku sungguh tak ingin dan tak terima.
Aku mulai bosan terlalu patuh pada segala hal, terutama terlalu patuh pada keingin manusia. Patuh pada omongan-omongan mereka yang kadang membuatku sendiri tak memiliki kesempatan untuk sendiri. Aku bosan patuh.

Tinggalkan komentar