Sadar diri. Sulit rasanya menyadari bahwa langkahku ternyata sudah sejauh ini. Umurku kian bertambah, kian beranjak menuju seorang wanita yang bukan lagi meminta es krim, melainkan aku harus sudah mulai berjuang untuk menghasilkan es krim dan memberikannya sendiri dengan tanganku. Tahun ini, 2021, umurku akan berubah menjadi 22 tahun. Waktuku dengan realita dunia sesungguhnya baru akan benar-benar dimulai ketika hari kelulusanku menyandang S.Sos tiba, inshaAllah 2022.
Aku selama ini hidup dalam lingkungan yang sebenarnya penuh dengan kekhidmatan jika kita sungguh bisa menikmati dan mengambil hikmah. Tapi, akhir-akhir ini aku mungkin terlalu banyak bertanya dan kurang menikmati. Maafkan aku.
Bulan Juni hingga bertemu Juni lagi di tahun depan, adalah ladang jihadku yang benar-benar harus ku perjuangkan untuk terakhir kalinya sebagai seorang mahasiswi yang masih ingusan. Banyak hal ternyata yang harus aku persiapkan ke depannya. Banyak sekali rupanya. Aku seringkali memikirkan bagaimana aku harus merancang masa depanku, mau jadi apa aku kelak, sedangkan diriku benar-benar merasa belum pantas menjadi apapun. Rasa ketidakpercayaan diriku dalam menghadapi bagaimana realita kehidupan masih sangat tinggi. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana aku bisa bergelut dengan dunia luar yang tak akan pernah aku sangka?
Aku hanya sering mendengarnya dari kerabat-kerabat dan dosen-dosenku bagaimana kerasnya kehidupan. Karena, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, sebagian besar hidupku saat ini dan di masa lalu, kuhabiskan di tempat yang penuh kekhidmatan.
Aku ingin tak terlalu sering bercanda dengan dunia, tapi aku juga ingin tetap menemukan kehangatan. Gambaran tentang mahasiswi akhir sepertinya masih abstrak di benakku. Kata “Skripsi” rasanya masih menjadi momok yang menakutkan. Adakalanya aku tak perlu lelah-lelah berjuang untuk sekedar memperjuangkan skripsi. Aku pernah berpikir untuk memulai sesuatu yang baru tanpa mengakhiri studiku. Tapi, aku memang harus.
Sesuatu yang sudah diawali, harus benar-benar kau akhiri. Itulah kenikmatan yang akan kau dapatkan. Kau pun akan dapatkan ketenangan karena urusanmu telah selesai. Tapi, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana kau akan melalui akhir itu?
Husnul khatimah-kah? Atau Suul khatimah?
Do’akan aku dan teman-temanku agar bisa terus berjuang dan bergelut.
Sekian.

Tinggalkan komentar