Hari ini, ada suatu kajian wajib setiap siang di kampusku. Setiap mahasiswi wajib untuk mengikutinya. Namun, yang aku dapatkan hari ini adalah hanya 9 orang (termasuk aku) yang mengikuti kajian tersebut dari 49 orang angkatan prodiku. Awalnya, aku merasa ‘biasa saja’, hingga hatiku mulai terganggu karena tidak kehadiran teman-temanku. Bukan karena aku yang terlalu patuh dan mengiyakan, tetapi, bagiku ini sudah mengganggu pikiranku.
Aku, pada akhirnya menyadari betapa remehnya diriku dan teman-temanku akan hal ini. Aku merasa bahwa cara kita menghargai manusia lain sungguh sangat kurang. Kesadaran diri tentang betapa berharga sebuah ‘harga’ dari sikap ‘menghargai’ sudah terlampau jatuh dan jauh.
Bukan hanya dari masalah ketidakhadiran, tetapi juga bagaimana menyikapi orang dewasa yang bertindak atas kita.
Jujur saja, seringkali aku merasa jengkel ketika tugas menumpuk yang diberikan dosen. Tugas-tugas yang menggunung, tekanan organisasi yang tiada habisnya membuatku dan mungkin juga teman-teman lain yang sama sepertiku merasa jenuh. Keterbatasan akses internet yang sesungguhnya dibatasi secara sepihak dengan alasan yang menurut kami ‘tidak logis’, kerinduan kami akan menatap dunia di ‘luar sana’. Jujur, aku pun merasa terkungkung.
Tapi, hal-hal yang aku lakukan untuk mengekspresikan betapa aku bosan dan jenuh, kadang membuatku semakin buruk, bahkan karakterku seakan-akan berubah karena kesadaran diri tentang betapa pentingnya MENGHARGAI hilang. Aku mulai mencaci, mengata-ngatai yang tidak pantas, membicarakan orang lain, dan hal-hal buruk yang aku lakukan.
Aku jadi merasa terganggu dan banyak menyesal, betapa aku sudah bertindak sejauh itu.
Hari ini aku belajar lagi, betapa kehadiran kita sungguh diharapkan banyak orang ketika yang bersangkutan memiliki hajat penting.
Ada satu hal lagi yang membuatku merasa tersinggung.
Aku, bertemu temanku, panggil saja Devita. Aku bertanya padanya, mengapa ia tidak ikut kajian wajib tadi. Lalu, ia menjawab, “Yang penting nggak dosa.”
Aku jengkel, kemudian banyak berpikir. Bagaimana bisa, segala sesuatu ditolakukurkan dengan pernyataan seperti itu. Teguran-teguran tentang sifat manusia yang harus dibiasakan untuk menepati janji, berusaha tepat waktu ketika memiliki janji, berusaha untuk membantu, dan hal-hal baik lainnya.
Kini, aku mulai merasa terganggu.
Maafkan aku, pada semua guruku yang sempat aku umpat bahkan kesal karena bertumpuk tugas yang mereka berikan. Maafkan aku, pada semua kawan dan sahabatnya, yang perkataanku sungguh menyayat hati. Maafkan aku, pada seluruh penduduk bumi, atas ketidaksyukuranku.
Wahai semesta, aku sungguh tidak mengerti dengan caramu bermain.

Tinggalkan komentar