Hidup kita ini penuh dengan peraturan. Karena pada hakikatnya, manusia hidup dengan serangkaian peraturan yang tak akan pernah bisa diputus. Manusia dewasa, benda mati sekalipun punya peraturan tentang mengapa ia diciptakan.
Semakin dewasa, semakin kita akan mengenal lebih dalam bagaimana hukum alam bekerja. Kesulitannya, ternyata tak ada yang bisa diprediksi bagaimana alam akan bertindak pada hidup manusia. Kemampuan untuk mengerti dan memperhatikan sekitar pun akan semakin menguat.
Ketika manusia memilih untuk bersikap egois, maka tak apalah baginya untuk seperti itu. Karena setiap manusia sungguh memiliki sikap seperti itu. Tapi, bagaimana jika egois pada diri sendiri? Pada akhirnya, egoisme diri sendiri ini akan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap lingkungan. Pengaruh yang besar itu bisa jadi baik ataupun buruk.
Ketika kita memilih untuk tidak abai dalam menjaga diri, meningkatkan prestise diri dengan tetap menjadi manusia penuh disiplin, manusia yang bisa menjaga perkataanya, manusia yang bisa bersikap adil terhadap sesama, manusia yang bisa menempatkan diri di setiap situasi, manusia yang selalu mau untuk bertindak lebih, sejatinya ia yang peduli dengan lingkungannya.
Mengapa demikian?
Karena keyakinan dirinya bahwa ia merupakan contoh bagi manusia lainnya yang menjadikannya sebagai manusia sungguhan.
Modernisasi zaman bahkan pola hidup yang terlanjur digandrungi teknologi, kurangnya ilmu tentang etika, kesadaran bahwa bi’ah kita sebagai wanita menjadi salah satu pemicu bagaimana wanita kini bukan menjadi seorang ‘wanita’, tetapi wanita tak beretika.
Untuk saat ini, kita perlu membangun kembali fondasi untuk menciptakan lingkungan kita menjadi lingkungan dengan wanita yang tidak melupakan bi’ah dan fitrahnya sebagai wanita sholihah.

Tinggalkan komentar