Dulu, ketika aku masih kerdil sekali dalam memahami kehidupan dan pertemanan, rasanya perih ketika mereka yang tak mengerti dirimu begitu jahat dengan bersikap seolah tak ada. Rupamu hanya berwujudkan bayangan hitam gelap di ujung malam. Kata-katamu hanya menguap di atas udara yang berebutan dengan nafas-nafas mereka.
Kau terus berdiam diri, menahan rasa tak sukamu, rasa kesendirian dan kesepianmu dengan terus diam dan berujung menjadi seorang pendiam. Namun, sejatinya kau benar-benar tak sungguh diam. Matamu jeli, hatimu peka, rasa pekamu yang kemudian menuntunmu menjadi seorang pengamat sejati. Mereka yang merasa kau begitu tak berguna, dan mereka yang menganggap dirimu begitu jahat. Kau sungguh tahu akan itu.
Rasanya, selama ini yang kau lakukan selalu kau rasa kurang dan sungguh tak membantu lebih. Kau selalu berada pada perasaan dimana segala hal yang kau lakukan sungguh kurang dan tak memberi perubahan besar.
Semakin beranjak dewasa, ketika waktu mulai menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadikan kita seorang yang benar-benar teman atau hanya sekedar angin lalu, kau makin mengerti bahwa teman terbaikmu hanya bisa disebut dan akan hadir ketika sulitmu hadir pula. Kenyataannya, teman seperti itu hanya hadir beberapa saja.

Tinggalkan komentar