Morning Person

Morning Person

Bernafas bersama pagi, rasanya tak banyak yang seperti ini.

Banyak hal menakjubkan bersama pagi. Burung-burung turun ke bumi, menapaki jejak-jejak bersama kawanan meski hanya sekedar untuk bergerak-gerak kecil. Beberapa dari mereka beterbangan diatas kepalaku. Suara-suara cuitan khasnya begitu terdengar akrab. Suara khas yang menandakan bahwa “Oh, ini pagi hari!”

Udara terasa dingin, namun begitu menghangatkan. Remang-remang lampu yang masih menyala. Antara harus dihidupkan atau lebih baik dimatikan. Remang itu pula yang menandakan, bahwa “Oh, ini pagi hari!” Awan yang masih mendung dan tak tahu kapan matahari harus naik.

Hijau-hijau pepohonan dan rumput membuat segar suasana. Tetesan-tetesan air yang mengendap lama diatas atap mulai menetes, berpindah jatuh ke tempat yang lebih rendah. Terus seperti itu, terutama ketika hujan turun lebat. Sinar perlahan mulai muncul meski tak dengan cepat.

Aku ingin menjadi morning person.

Orang-orang yang menghormati pagi. Orang-orang yang mengerti bagaimana harus dan kapan bercengkerama dengan pagi. Mereka tahu bagaimana menyapa pagi. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan pagi.

Menghirup udaranya, bernafas lega bersamanya. Bermain bersama burung-burungnya. Berkayuh bersama sepedanya. Belajar menghargai hidup dari hijau-hijaunya pohon dan rerumputan. Menikmati deru angin yang dingin namun begitu menghangatkan hati.

Aku ingin memiliki perasaan yang berbeda dengan pagi.

Belajar bertanya pada pagi bagaimana masa depan akan bisa seindah dan semenakjubkan dirinya.

Tapi, sungguhkah bisa?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai