Baru Saja

Baru Saja

I’m in another place.

Menikmati pagi yang berbeda di tempat yang menurut kebanyakan orang ‘mengerikan’. Sekarang, pintu kemanapun terasa dekat. Wifi, sangat dekat. Pintu kamar mandi, ada di hadapan. Yang benar-benar berbeda hanyalah keadaan.

Memang, bukan keinginan siapapun menjadi sama sepertiku. Disini. Di tempat yang mungkin bisa jadi ‘buruk’, tapi tak ada yang tahu bagaimana kebermanfaatannya nanti. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah tentang kesyukuran. Mensyukuri bahwa mereka yang menyayangi kita dan mengerti, membiarkan kita untuk istirahat dan rehat sejenak dari kesibukan diri dan kesibukan pikiran. Tapi semoga, hati kita tak pernah sama sekali merasa terbebani untuk terus bertasbih dan bertahmid.

Kesibukan diri dan pikiran yang aku rasakan pun benar-benar menjadi sebuah alat pecut yang rasanya seperti dicambuk ratusan kali. Tekanan dan tuntutan dari ‘hierarki’ membuat sosok manusia sepertiku seperti kerdil yang hanya mampu mengatakan ‘iya’ tanpa pertimbangan yang panjang.

Bodohnya, mungkin ini adalah hasil dari keinginanku untu egois. Buruk memang, tapi kita sungguh tak tahu ini benar-benar buruk atau tidak. Dengan kata lain, aku menyebutnya sebagai ‘me-time’, waktuku untuk banyak menata kembali tentang hal-hal yang hilang. Tentang hal-hal yang banyak sekali aku lewatkan bersama diriku sendiri. Hal-hal yang aku dambakan untuk kulakukan bersama diriku sendiri.

Semoga, hadirku di tempat ini benar-benar untuk berhenti sejenak dari bisingnya dunia.

Do’akan semuanya.

Do’akan agar bumi lekas pulih. Do’akan Ayah dan Ibu kami agar mereka pun diberi kekuatan untuk terus berikhtiar dan kuat dengan tumpukan rindu pada anak-anak mereka yang sedang pergi jauh. Do’akan kerabat-kerabat kami, agar mereka pun menjadi sekuat baja dalam menghadapi bahwa dunia sedang sekarat. Agar putus asa tentang keberadaan masa depan tak terus menghantui para pelopor masa depan. Do’akan guru-guru dan ayahanda kami agar terus sehat dan bisa terus mengabdi untuk agama.

Terakhir, do’akan kami agar kami sungguh bisa kembali. Menghadapi sulit getirnya hidup dengan hati yang lebih lapang, matang dan terang.

Allahumma yassir ….

Amin.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai