Gurun Pasir, Hujan dan Buah

Gurun Pasir, Hujan dan Buah

Tepat di hari Minggu, drama Korea Start-Up menamatkan episode terakhirnya. Happy ending menjadi penutup drama yang sedang banyak dibicarakan masyarakat dunia. Samsan Tech yang berubah nama menjadi Cheong Myeong Company telah menjadi sebuah perusahaan sukses yang mengembangkan kemudi otomatis dan begitu pula dengan seluruh karyawannya, Seo Dal Mi, Nam Do San, Lee Chul San, Kim Yong San, dan Jung Sa Ha.

Pada episode ke-5, ada sebuah percakapan antara Dal Mi dengan neneknya tentang bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan.

“Dunia ini gurun pasir jika setiap hari cerah. Harus turun hujan dan salju, agar tumbuhan dan jeruk enak bisa tumbuh.” –Seo Cheong Myeong (ayah Seo Dal Mi)-

Cerah diibaratkan sebagai sebuah kebahagiaan yang tentunya didambakan banyak manusia.

Hujan dan salju diibaratkan sebagai kesulitan yang banyak ditakuti bahkan berusaha dihindari oleh setiap manusia.

Tumbuhan dan jeruk diibaratkan sebagai hasil dari seluruh proses yang telah dijalani.

Pada kenyataannya, bahkan hidup ini penuh dengan liku dan kesulitan. Kita kerap kali berada dan mungkin merasa stuck atau terjebak dalam sebuah kerisauan karena berbagai hal yang terjadi dalam hidup. Hingga merasa banyaknya kehampaan dan gundah, menjadikan kita pribadi yang tertutup, sempit memandang dunia. Bagi kita yang demikian begitu, dunia layaknya hujan tak berkesudahan yang membuat tubuh menggigil, seperti terjebak di tengah badai salju tanpa penghangat apapun yang menutup tubuh. Masalah dan kesulitan adalah ketakutan terbesar. Masalah adalah sebuah kesialan bagimu.

Tapi, bayangkan bagaimana jika hanya bahagia saja yang hadir dalam hidupmu?

Hartamu berlimpah, bajumu sungguh modis, makananmu terpenuhi, segala inginmu tercapai. Hidupmu sungguh bahagia sampai kau tak pernah merasakan kepedihan dan kesedihan hidup. Hidupmu sepertinya terlihat damai dan nyaman tapi nyatanya tidak. Hidupmu seperti di surga rasanya, tapi sungguh bukan seperti itu.

Mengapa?

Jawabannya adalah, kau tak sungguh bertumbuh dan menerima hidup.

Kau butuh hujan untuk menjadikan hidup cerahmu yang sesungguhnya seperti gurun pasir untuk bisa bertemu rumput hijau. Agar tumbuh-tumbuhan yang manis buahnya akan hadir sebagai pelengkap dari kehidupanmu.

Kau butuh badai agar bisa belajar dari kesalahan. Badai itu yang akan menjadikanmu menjadi seorang pembelajar yang berguru pada semesta. Badai itu pula yang akan mengukur kemampuanmu sejauh mana kau bisa bertahan dan berjuang.

Kau butuh kesulitan agar hidupmu tak gersang dan kering.

Sepertinya, kau, aku dan kita kurang menikmati kesulitan. Doktrin-doktrin manusia tentang kesulitan yang sungguh menyebalkan menjadikannya menakutkan dan lelah untuk dihadapi. Kita perlu rehat memandang kesulitan sebagai suatu ketakutan.

Kita hanya perlu menikmati segalanya. Kehidupan ini juga tentang bagaimana kita bisa menjadi lebih matang dalam berpikir dan bertindak. Bagaimana matahari dan hujan membentuk kita sebagai insan yang siap dengan kehendak-Nya dan memberikan kita tumbuh-tumbuhan dan buah yang layak untuk kita dapatkan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai