Ternyata, sudah tiba.
Haruskah disambut, dicerca atau dilupakan?
Baiklah, tamu yang datang lebih baik untuk disambut.
Selamat datang, Desember.
Entah harus apa yang aku katakan di awal bulan penutup ini. Bulan terakhir dari kalender Masehi. Bulan penutup yang tentunya menjadi klise ketika kita mengingat bahwa sang awal akan segera datang dan mempersiapkan jiwa-jiwa baru bersamanya dua belas bulan ke depan, Januari.
Desember, bagiku sang Penutup yang membuka. Ia tidak akan pernah menjadi akhir. Ia tidak akan pernah menjadi yang terakhir bagi seluruh penduduk bumi. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak kau sangka. Kemungkinan dan segala mimpimu yang terhalang waktu bisa saja menjadi awal bagi Desember, atau mungkin akan terus melaju hingga angka berubah menjadi 2021.
Ia menjadi bulan dimana seharusnya manusia berkaca lebih banyak, bagaimana sebelas bulan yang lalu ia bertindak terhadap dirinya, orang tuanya, temannya atau bahkan lingkungan sekitarnya. Ia seharusnya menjadi tangisan dimana manusia menyesali betapa waktu yang dilewatkan sekian lamanya sungguh hanyalah sebuah kesia-siaan.
Ia seharusnya menjadi langit yang teduh, bahkan mendung dan kemudian hujan. Agar diri manusia menjadi sejuk dan bisa banyak memikirkan secara emosional apa yang salah di waktu-waktu yang lalu. Setelah itu, berdoalah supaya matahari dan pelangi untuk hadir, agar senyum terulas di wajah-wajah basah karena tetesan hujan yang telah penuh dengan sesal, bergantikan harapan akan hari esok yang lebih tenang dan baik.
Ya Allah…
Teruslah beri kami keberkahan dengan sebaik-baiknya berkah-Mu di hari-hari kami dalam mencari ridha-Mu.

Tinggalkan komentar