Kita adalah Nam Do San di kehidupan nyata.
Beberapa minggu ini, banyak orang yang membicarakan drama Korea, Start Up yang dibintangi Nam Joo Hyuk dan Bae Suzy. Drama korea yang berkisahkan tentang para pemuda yang sedang berusaha mendirikan perusahaan rintisan dan segala proses yang harus dilalui.
Nam Joo Hyuk berperan sebagai Nam Do San. Seorang programmer IA yang pernah menjuarai Olimpiade Matematika sebagai umur termuda. Baginya, bahasa pemrograman merupakan bahasa yang paling nyaman, sehingga ia senang dengan apa yang ingin ia capai sebagai mimpinya.
Bukan hanya ceritanya yang luar biasa memiliki banyak makna tentang keluarga dan arti berproses, tapi yang paling menarik perhatian saya adalah tokoh karakter Nam Do San yang menurut saya cukup realistis dengan karakter pemuda milenial di era ini. Karakter yang menurut saya, realistis dibandingkan drama korea lainnya yang pernah saya tonton sebelumnya.
Nam Do San dikarakterkan sebagai seorang pemuda yang memiliki mimpi untuk menjadi seorang programmer dan pebisnis. Mimpinya adalah memasuki Sandbox, sebuah tempat pengembangan para pebisnis dimana para pemuda dilatih dan dididik bagaimana mendirikan sebuah perusahaan. Do San umur pertengahan 20 merupakan seorang programmer cerdas dan pendiri perusahaan kecil bernama Samsan Tech. Perusahaan ini ia dirikan bersama kedua temannya bernama Kim Yong San dan Lee Chul San. Perusahaan ini mulai memasuki Sandbox lewat aplikasi pengenalan wajah yang dibuat dengan segala perjuangannya. Namun, meskipun cerdas dalam bidang TI, rupanya Nam Do San menjadi begitu kaku dan tidak mengetahui banyak mengenai trend masa kini sehingga dirinya tak bisa menjadi CEO. Karena menjadi CEO, ia harus mengetahui trend masa kini.
Selain cerdas, Nam Do San juga digambarkan sebagai seorang yang rendah hati, jujur, tulus. Dirinya lebih memilih kalah dari siapapun karena baginya, kalah itu menenangkan. Baginya, kalah tidak akan menjadikan bebannya bertambah berat. Namun, di satu sisi, justru dari sering mengalahnya itu, ia kerap kali terbebani karena harus menjadi kebanggaan orang tuanya. Dari sinilah, ia seringkali merasa minder/insecure bahwa dirinya tidaklah hebat. Dirinya tidaklah sempurna. Dirinya bukanlah anak yang berbakti. Padahal, kecerdasan yang ia miliki tak bisa dibandingkan dengan kedua temannya, Chul San dan Yong San.
Hal inilah yang terjadi pada anak muda zaman sekarang. Insecure adalah momok bagi kita yang masih berada di usia 20-an. Ketakutan kita terhadap perbedaan yang sebenarnya tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Perbedaan yang menurut kita diartikan sebagai kekurangan diri yang perlu dipenuhi, bahkan mungkin dengan menghalalkan segala cara. Perbedaan yang bahkan, tidak melirik bagaimana kita memiliki potensi yang lebih untuk dikembangkan dibandingkan dengan melihat bagaimana kelebihan orang lain. Perbedaan ini yang kemudian menghantui setiap pikiran anak milenial, bahkan tanpa kita sadari.
Kita kerap kali takut untuk berproses dan terlalu menjadi seorang penakut akan masa depan. Rasa juang kita mulai hilang dan lebih menjadi seorang penikmat dibanding pejuang. Mungkin saja karena kita tak tahu bahwa proses itu yang akan membentuk kematangan dan kedewasaan diri. Hasilnya tidak akan hanya terjadi dalam waktu 1-2 tahun. Tetapi, waktu yang lebih panjang dari itu untuk membentuk bagaimana kematangan diri kita. Terutama, 25 tahun lagi, kesiapan diri kita akan dipertarungkan dan dipertaruhkan dengan bonus demografi.
Sungguh sudah siapkah?

Tinggalkan komentar