Beberapa hal dalam hidup yang kadang mengusikmu, menjadikan mentalmu lelah akan betapa rancunya dunia dan manusia di dalamnya, maka diamlah. Meski terkadang berat sekali, bahkan hingga sesak sekali dada rasanya, tetaplah diam. Diamlah, agar marahmu tak memuncak dan melunjak.
Ketika saat amarahmu tiba dan ingin sekali rasanya kau mengeluarkan umpatan-umpatan tak berguna bahkan kasar adanya, maka diamlah. Tahan dan paksa dirimu untuk tetap diam. Katakan pada dirimu untuk terus bersabar dan menahan. Meski sesak dadamu untuk sekali lagi, belajarlah bahwa suatu saat diammu sungguh sangat menguntungkan.
Ketika mereka memancingmu dengan sindiran-sindiran halus, tatapan-tatapan kebencian, hingga umpatan-umpatan yang jelas terucap, tetaplah tenang. Ingatkan dirimu bahwa sikapmu tak boleh seperti dirinya. Ingatkan hatimu untuk terus meminta ampun-Nya dengan istighfar. Ingatkan terus, bahwa kedewasaanmu sedang diuji dengan bagaimana kau bersikap terhadap sikap manusia.
Ketika kau mulai berpikir untuk bertindak tidak rasional, seperti pikiran-pikiran untuk mencelakakan seseorang, menusuknya dengan lidah tajammu, mencoba menjadi seseorang yang paling benar, maka ingatkanlah pikiranmu pada sesuatu yang membuatmu bahagia. Seperti halnya kau berjalan-jalan di taman nan indah diiringi musik klasik Wolfgang Amadeus Mozart yang menggugah senyummu. Maka dengan sendirinya, mulutmu akan terus diam.
Diamlah, agar kau tak banyak mengeluh tentang banyak hal yang membebanimu. Beban itu adalah kenikmatan ketika orang lain merasa kosong dan tak bergerak.
Diamlah, agar ingatan tentang orang-orang yang berburuk prasangka padamu tak membuatmu jatuh dan terluka.
Diamlah, agar kata-kata buruk yang bisa memperburuk keadaan karena ketajaman kalammu tak menyakiti banyak manusia.
Teruslah diam ketika banyak hal baik yang menghampiri. Bertasbih, bertahmid dan bersyukurlah selalu, dalam hatimu. Namun, jangan diam ketika kemunkaran dan fitnah ada di hadapanmu.

Tinggalkan komentar