Aku membenci hierarki. Bagaimanapun bentuknya, siapapun tokohnya, mengapa hadirnya begitu ada dan diakui. Aku sungguh ingin mengatakannya dengan penuh kejujuran bahwa aku membenci hierarki.
Saat ini, pada jam dan detik yang terus bergulir, aku sungguh ingin mati rasanya. Hierarki sungguh tercipta di tempat aku menetap saat ini. Tak mengenal siapapun dan bagaimanapun ia. Hierarki di tempat ini menjelma menjadi monster, seperti sihir yang kutukannya tak pernah hilang dimakan zaman.
Terkadang, ketika jarum jam terus melewati angka dua belas, aku merasa lelah hati. Keinginan hierarki ini tak sesuai dengan apa yang telah diusahakan oleh diriku. Padahal, setiap hari, aku dan mereka berusaha untuk berpikir bahkan melakukan yang terbaik. Namun, rupanya hierarki tak memiliki pendengaran. Mereka buta dan tuli.
Pada puncaknya, keluhan kita, desahan panjang bahkan hanya berakhir menjadi debu halus yang kasat mata. Pergi begitu saja tanpa dipedulikan oleh hierarki. Apakah jahat? Bagiku, jawabannya adalah ‘ya’.

Tinggalkan komentar