Bukan Apa-Apa

Bukan Apa-Apa

Kemarin malam, ada yang membuat kepercayaan diriku runtuh. Meski tak banyak, nyatanya bisa membuatku sekarang merasa tertekan. Aku diperlihatkan bagaimana orang-orang sukses meraih impiannya. CV-nya penuh dengan juara-juara regional, nasional bahkan ada yang sampai melancong ke ajang internasional dan menjadi juara. Beruntungnya, mereka-mereka yang diperlihatkan padaku adalah orang-orang Indonesia dan sebaya denganku, 21 tahun.

Kemudian aku diperlihatkan seorang wanita berjilbab yang sebaya denganku. Dia merupakan juara pilmapres kategori diploma yang aku lupa tahun berapa. Hebatnya, dia telah menikah dan memiliki lembaga yang bisa memberikan beasiswa bagi anak-anak Indonesia. Yang membuatku takjub adalah dia membuat konsep beasiswa itu sejak semester 2 ketika ia kuliah.

Aku kemudian menatap diriku sendiri. Tidak di depan cermin, tapi menatap diriku sendiri melalui perantara langit malam yang saat itu memang penuh bintang. Sudah seberapa jauh aku berbuat?

Kemudian teringat kembali pengakuan-pengakuan dari kakak-kakak kelasku yang telah lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan. Mereka bilang, bahwa dunia tak seindah yang dibayangkan dalam novel-novel, atau romansa ketika kau jatuh cinta. Dunia, sungguh sesuatu yang tak bisa kau prediksi.

Lalu, aku bertanya kembali. Lebih dalam.

Sudah berapa jauh aku melangkah?

Aku kemudian terdiam lama sekali. Tahun-tahun yang terlewati dan kulewati seperti sia-sia bagiku. Kenikmatan hidupku selama ini rasanya terlalu mewah, sampai terkadang aku merasa tak pantas mendapatkannya.

Aku cemburu pada mereka yang begitu ambisius dan percaya untuk bisa bermimpi besar. Aku cemburu pada mereka yang bisa bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Aku benar-benar cemburu.

Aku jadi menyadari banyak hal. Ternyata, aku bukan apa-apa.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai