Garis Tak Kasat Mataku

Garis Tak Kasat Mataku

Hari ini, entah mengapa diriku diliputi rasa bahagia yang begitu bermakna. Tiga bulan belajar melalui sistem daring sesungguhnya penuh dengan penat dan mengundang banyak rasa malas bagiku. Sampai akhirnya, seluruh dosenku memutuskan untuk mengadakan kuliah secara langsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Meski awalnya sempat merasa pesimis karena jadwal padat sehari penuh, namun, ternyata bagian terdalam diriku merindukan sebuah pertemuan.

Terdengar berlebihan jika aku mengatakan demikian. Namun, aku melihat sesuatu yang berbeda hari ini. Ada yang menarik perhatianku bagaimana perjumpaan atas sebuah hal yang hilang dengan waktu yang lama begitu terobati hanya dengan satu perjumpaan. Perjumpaan yang maknanya sungguh tak tertandingi.

Riuhan tawa memenuhi ruang, rasa kantuk yang tak pernah lagi terlihat ketika bertatapkan teknologi, tak menyenangkan. Padahal, melihat seorang yang mengantuk ketika pelajaran berlangsung adalah obat penghibur ketika siang hari yang terik memenuhi ruangan. Humor ‘receh’ teman-teman ataupun dosen yang tetap bisa membuat kami tertawa. Sungguh, aku merasakan kembali hal itu.

Hingga akhirnya, aku menarik garis tak kasat mata tentang sebuah perjumpaan, dan hanya berbisik pada diriku bahwa sesuatu kecil seperti itu benar-benar dapat menyentuh hatiku. Garis itu tak terlihat oleh siapapun, tak disadari oleh bagian diri dari manusia. Hanya aku.

Sesuatu yang berada jauh dari dalam diriku tersenyum sangat lebar dan riang. Terus merasa bersyukur bagaimana sebuah pertemuan singkat dapat menghidupkan kecamuk diri yang sudah lama redup. Pertemuan sederhana dan terkesan terburu-buru telah membangkitkan ragaku yang telah terlalu lama tidur tanpa peduli untuk memilih bangun atau tidak. Pada titik tertingginya, ia perlahan menyembuhkanku dari krisis diri yang seringkali merasa bersalah karena tak bisa mengambil keputusan sendiri.

Bagian-bagian dari garis tak kasat mata itu perlahan membentuk garis panjang dan bersiap menuntunku untuk kembali menata hidup dan masa depanku. Kekhawatiranku tentang hidupku ke depannya perlahan mulai menemukan titik terangnya. Aku, yang di hari kemarin merasakan berada dalam gua gelap, dituntun kembali untuk membangun kembali diri. Garis tak kasat mata itu mengajarkanku banyak hal dalam satu hari ini.

Ia mengajarkanku bahwa pertemuan sederhana, sungguh sangatlah bermakna. Maka, ia berkata untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan siapa dan kapanpun.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai