Mendengar Kisah Cinta Sejati

Mungkin, umurku masih dua puluh. Tapi, aku tahu beberapa hal bagaimana menilai arti cinta. Bagaimanakah kisah cinta yang hanya berujung di bibir dan tak ada nilai sama sekali, atau kisah cinta yang tak terucapkan tapi sungguh banyak memiliki makna. Banyak kisah tentang cinta yang tak memiliki jiwa, khususnya di umurku yang kian bertambah seiring berjalannya waktu. Aku telah berjumpa dengan teman-temanku yang memiliki kisah cintanya masing-masing.

Lalu, apakah kisah cinta sejati hanya milik dua orang yang sedang jatuh cinta? Atau sepasang suami-istri yang baru saja menikah? Atau anak SMP yang diam-diam saling melirik karena tak berani mengungkapkan?

Nyatanya, kisah cinta sejati luas sekali adanya. Beberapa dari kita mungkin tidak tahu, bahwa kisah cinta sejati tak selalu mengenai rasa diantara dua manusia atau mengarungi bahtera rumah tangga. Jauh daripada itu, kisah cinta sejati terletak pada mereka yang berjuang diatas hal lain. Kisah cinta sejati yang benar-benar terjadi pada mereka yang berjuang untuk menggapai Cinta-Nya.

Kita, adalah satu diantara bermilyar manusia di muka bumi yang dibutakan oleh cinta duniawi. Padahal, cinta Rasulullah pada umatnya tak pernah terukur. Bahkan, sebelum wafatnya, ia terus menyebutkan “ummati, ummati, ummati“. Cintanya yang begitu besar meredam rasa sakitnya sebelum malaikat Izrail menjemputnya.

Kita adalah satu diantara banyak raga yang berkeliaran di bumi yang dibisukan oleh gunjingan-gunjingan manusia. Padahal, cinta sejati ada pada diri Ja’far bin Abi Thalib yang tetap mendekap panji Islam dengan sisa tangan terputus ketika Perang Mu’tah.

Kita adalah satu diantara makhluk hidup yang sedang bernafas dan lupa, bahwa cinta adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang harus berjuang untuk menguatkan hati ketika harus berperang melawan Ayahnya sendiri.

Kita adalah satu diantara jiwa yang diberi kesempatan hidup, bahwa cinta adalah Siti Hajar yang dengan rela ditinggal sendirian bersama Ismail kecil di padang pasir yang tandus.

Dan kita adalah satu diantara manusia yang dibutakan, bahwa cinta adalah Abdullah bin Abu Bakar yang harus rela menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas demi mematuhi perintah Sang Ayah.

Lalu, sudahkan kita memahami apa arti cinta sesungguhnya?

Lalu, sudahkah kita percaya bahwa cinta sejati sungguh ada dengan perjuangan dan pengorbanan?

Rupanya, belum. Bahkan, mungkin tidak. Arti cinta bagi kita masihlah, sempit, dangkal, tak bermakna.

Semoga, dengan banyaknya kita belajar bagaimana perjuangan para syuhada terdahulu memperjuangkan arti cinta sejati, hati kita lebih terbuka menerima, lebih mantap melangkah dan yakin bahwa cinta sejati memang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Maka, cintailah apapun, cintailah siapapun.

Tapi jangan pernah tempatkan Cinta-Nya di paling bawah. Karena, Allah-lah sebenar-benarnya Pemberi dan Pemilik Cinta.

Sumber: @haruntsaqif (instagram)—It’s inspiring me a lot!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai