Ternyata betapa sulitnya menjalani hidup memikirkan bagaimana manusia bertindak. Bagaimana mereka berpikir dan menakar berapa banyak hal yang bergelut dalam pikirnya. Tak akan pernah cukup waktu meskipun sehari untuk menafsirkan arti kerut di kening tiap-tiap manusia.
Menyerahlah, wahai diriku!
Pikiran manusia lebih banyak dibandingkan prediksimu. Bahkan, pikiranmu sendiri terkadang lebih rumit dibandingkan memprediksi apa yang dipikirkan orang lain. Jadi, terus saja berusaha dan bergerak supaya pikiranmu dijauhkan dari pikiran buruk.
Sulit memahami manusia. Bahkan, tentang sifat atau dirimu yang kadang diri sendiri pun jauh dari kata sepenuhnya tahu. Mereka berkata bahwa kau jahat, mereka berkata bahwa kau terlalu kelewatan, mereka berkata bahwa kata-katamu menyakitkan, mereka berkata bahwa kau harusnya memahami bagaimana karakter mereka. Lalu, aku harus bagaimana.
Beberapa jam menjadi waktu yang tepat untuk memikirkan bagaimana aku bisa berusaha untuk berubah sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Menjadi lebih tertata dalam berkata, menjadi lebih terarah dalam bertindak. Malah, yang dirasakan adalah seakan kau menjadi tokoh antagonis diantara mereka, meskipun dirimu menolak bahwa maksudmu bukan seperti itu. Tapi, sudahlah.
Kau dianggap terlalu dominan karena gelagatmu yang tegas, karaktermu yang cenderung banyak bicara, perkataanmu yang mereka anggap terlalu jujur bahkan menimbulkan banyak sakit di hati manusia, wajahmu yang super datar, responmu yang cenderung tak sempurna, tak berekspresi. Kau dianggap terlalu menakutkan sehingga selalu menjadi tokoh antagonis dalam setiap kisah.
Kemudian, jalan pikiranmu yang selalu ‘bodo amat’ mengalir dan direalisasikan sehingga timbul kata, “ya, sudahlah.”
Di satu sisi, kau kisahkan pada sahabat yang telah mengenalmu selama 7 tahun lamanya betapa tak nyamannya dirimu menjadi terkekang oleh ocehan manusia. Dia yang mengerti bagaimana dirimu berkata bahwa tak perlu hidup atas dasar komentar orang lain. Meski kadang, beberapa hal perlu diambil sebagai pelajaran hidup.
Kemudian, aku mencoba untuk menarik garis dari semua yang disampaikan kepadaku, tentangku, tentang sifatku, tentang perkataanku bahwa aku sungguh tak bisa memahami manusia.
Manusia ternyata rumit.

Tinggalkan komentar