Kejadian ini sejujurnya sudah lama aku simpan rapat. Baru hari ini aku berkeinginan untuk menuliskannya.
Pernah di satu siang yang cukup terik, aku berjalan sendiri seperti biasanya. Tidak seperti orang lain yang menganggap bahwa sendiri berarti buruk. Bagiku, berjalan sendirian menyimpan arti yang banyak dan sesuatu yang bahkan tak biasa terlihat, seringkali muncul di benakku.
Ketika aku mulai menaiki jembatan untuk menuju kelasku, aku menemukan kerikil kecil di ujung jembatan, tepat sebelum aku akan menaiki jembatan. Aku kemudian menendang kerikil tersebut perlahan-lahan hingga benar-benar naik tepat di atas jembatan. Aku terus melakukannya hingga turun dan sampai di ujung jembatan yang berada di lain tempat.
Dari situ, aku menarik garis.
Sesuatu yang keras, sesekali memang butuh ‘dipaksa’.
Batu kerikil diibaratkan seperti sifat manusia yang kadang tak ingin diatur, keras kepala, egois, bersikap semaunya, acuh tak acuh, tak peduli.
Manusia yang menendang diibaratkan sebagai motor penggerak yang bisa jadi berwujud manusia atau hati nurani (dhamir).
Jembatan diibaratkan tujuan yang penuh dengan rintangan dan cobaan.
Manusia yang tak ingin diatur, terkadang harus dipaksa untuk mengikuti disiplin dengan perantara teman atau karib untuk pengingat, dan hati nuraninya yang bekerja untuk meluluhkan yang terlalu keras dalam hatinya.
Manusia yang susah mengendalikan egonya, sesekali harus dipaksa untuk bisa berbagi dan meruntuhkan egonya. Teman, lingkungan sosialnya memiliki andil untuk mengingatkannya agar mampu berbagi dan berbelas kasih. Hati nurani harus diajarkan untuk meluluhkan diri.
Manusia yang sulit mendengar nasihat, sesekali harus dipaksa untuk mencoba mendengarkan nasihat-nasihat para ulama ataupun kalimat-kalimat bermanfaat dari orang-orang yang dekat dengannya. Supaya, hati nuraninya mampu bergerak dan menjadi luluh akan kemaksiatan.
‘Pemaksaan’, tak selalu tentang kekerasan. Penjelasan-penjelasan tentang ‘pemaksaan’ diri sesungguh tak selalu buruk. Hanya saja, kacamata kita mungkin saja yang berbeda. Maka, untuk keberkian kalinya, sesekali, pandangan kita tentang ‘pemaksaan’ harus dilihat dari kacamata yang berbeda.

Tinggalkan komentar