Hari ini, aku berusaha untuk tak menutup diri. Semakin aku tahu bagaimana diriku seharusnya, semakin yakin aku bahwa diam memberikan pengaruh yang luar biasa untuk menumbuhkan rasa simpati dan peduli. Aku menjadi lebih peka akan keadaan, semakin teguh bahwa diriku harus bisa mengutarakan bahwa tidak mengapa untuk merasa tak baik-baik saja. Setelah dongeng yang aku kisahkan pada salah satu pundakku sambil tersedu dikala mega akan tampak.
Drama yang terjadi antara aku, dunia dan hatiku memang belum usai. Segala keluh masih saja terus mengalir seiiring aku yang dirundung banyak ketakutan. Aku penasaran, bagaimana bisa wajahku sedatar itu? Bagaimana bisa aku begitu tak berekspresi? Tapi, kecamukku berkata bahwa aku adalah pengamat yang baik. Jadi, aku mencoba meyakinkan bahwa setidaknya, ada yang tidak terlupakan, jauh dari yang orang lain kira.
Yang terlupakan terkadang memang banyak menyimpan rahasia.
Yang banyak menyimpan sunyi dan diam, sesungguhnya hati dan pikirannya lebih bising dibandingkan orang-orang yang menganggapnya demikian.
Diam terkadang menjadi cara untuk mengutarakan bahwa ada hal-hal yang tak perlu diutarakan. Ada hal-hal yang cukup dirimu sendiri yang tahu, sebagaimana pun keadaan mengungguli.
Yang lama terlupakan adalah menyadari bahwa terkadang, kita terlalu banyak mengamati, terlalu banyak berpikir, hingga pada akhirnya lupa bagaimana untuk mengawali. Lupa bagaimana harus bercengkerama.
Jadi, mengalirlah saja seperti air sungai yang terus menuju haluan. Tapi, jernihlah juga jiwamu agar tak terputus segala hal tentang-Nya. Berikan senyum terbaik pada mereka yang percaya padamu.

Tinggalkan komentar