Kita atau mungkin yang sedang terjadi padaku pernah sesekali merasakan bahwa aku merasakan sesuatu yang mungkin tak perlu diungkap, tapi dada terasa sesak jika tak dilakukan. Jadi, aku memilih untuk diam sesaat dan berkisah hanya dengan hatiku, dengan jari-jariku dan jerit-jerit yang ada di benakku.
Satu temanku ternyata menyimpan keegoisan yang bagiku tak sepadan dengan keinginannya. Keegoisannya bahkan dengan sempurna membuatku merasa terbebani sekaligus tercemari oleh rasa kesal. Pada akhirnya, aku berusaha untuk tetap terlihat tenang, meski kadang hati tidak. Di satu sisi, aku ingin seperti dirinya. Berbuat sesuka hatimu, menikmati setiap detik waktu sendiri tanpa perlu peduli bagaimana orang lain bertindak.
Lalu, jika begitu adanya, bagaimana aku harus menafsirkan egois?
Lalu, jika begini adanya diriku, bagaimana caranya menafsirkan egois?
Hampir dua bulan aku menahan egoisku, namun hasilnya tak sesuai dengan apa yang berusaha dicapai. Segalanya semakin memburuk. Hatiku menjadi lebih kalut, urusanku dengan-Nya menjadi tak khusyuk, kuliahku berantakan, rasa peduliku semakin memudar, sekitarku terasa kosong, teman dekatku perlahan menjauh, dan akhirnya, tak ada lagi yang bisa aku tampung sebagai pendengar kisah dongengku.
Aku pikir, mereka pun menjadi egois, seiring aku yang berusaha egois.
Aku pikir, aku mulai bisa menafsirkan bahwa egois itu menyenangkan, untuk aku yang menyukai kesendirian.
Aku pikir, kesepianku ini akan bertahan lama. Cukup lama sampai aku ingin lenyap rasanya.
Tapi, benarkah aku sungguh bisa menafsirkan egois?

Tinggalkan komentar