Awalnya tak begitu kusadari dan tak dimengerti. Bahwa, jika saja aku mengutarakan kesulitanku pada seorang wanita ketika ia berada dalam dua dunia, sesering mungkin, aku takut ia bingung.
Entah aku yang terlalu banyak terdiam, atau ia yang terlalu angkuh untuk menanyakan bagaimana kabarku. Namun, yang timbul saat ini justru kecanggungan ketika dua mata kita bertemu.
Pernah sekali aku ceritakan bagaimana aku dan kawananku bergerak. Aku kisahkan ia seluruh keluh dan kesahku tentang bagaimana keadaanku. Seringkali aku ceritakan terus bagaimana perkembangannya. Tapi yang ada, hanya aku yang selalu menjadi pendongeng. Ia, hanya menjadi pendengar setia.
Sekali lagi, awalnya aku merasa terganggu, hingga amarahku memuncak. Sebagai pemimpin, aku tahu tak boleh berlaku seperti itu, terutama dihadapan kawan-kawanku.
Tapi, ada satu hari ketika aku sendiri termenung dan memikirkan banyak hal. Melihat tawa-tawa tergantung di langit sore, mataku mengelilingi jiwa-jiwa yang sedang bahagia dan juga berduka. Sesuatu terlintas dalam benakku. Begitu saja, tapi mengetuk batinku dan berkata, “Sepertinya aku tak bisa menuntut adil pada seorang pemimpin wanita karena bagiku, itu keserakahan.”
Jadilah, aku hanya menjadi seorang Sunyi yang terus berusaha untuk bertahan di tengah gundukkan kalut yang terus saja membumbung tinggi bersama angin sore. Pagi terus melewati ruang-ruang hampa di sudut bangunan megah tempatku bernaung. Siang dengan teriknya pun hanya terus menyengat lewat celah-celah jendela di ujung penantianku. Sore bersama mega hanya terus menjadi indah setiap harinya, menghadirkan ketenangan untukku yang hampir setiap hari berada dalam kekhawatiran. Pada akhirnya, malam datang, namun aku tak kunjung menjadi tenang.
Terus begitu, hingga saat ini, aku yakinkan diriku bahwa aku tak perlu menuntutnya untuk berbuat adil. Karena bagiku, menuntutnya merupakan keserakahan dan sebuah dosa bagiku. Karena bagiku, wanita memiliki rasa serakah yang lebih tinggi dan tak berujung. Tak ada habisnya. Sehinga aku yakin, bahwa salah jika aku menuntut untuk bersikap adil pada wanita. Aku tak ingin menjadi pendosa.
Jadilah, aku hanya terus bergerak sebisaku. Tetap menyapanya meski banyak kegelisahan yang ingin kuceritakan padanya, betapa aku sungguh kesulitan.
Betapa inginnya aku bercerita bahwa aku kerap kali benar-benar tak baik-baik saja. Jadi, kuberikan saja padanya senyum-senyum bahagia. Aku ceritakan padanya dongeng-dongeng anak yang bisa membuatnya tersenyum.
Selepas itu, setidaknya aku bergerak dalam kebisuan, kebutaan dan ketulian.
Setidaknya, tak perlu ada yang dilihat dariku.
Setidaknya, aku pernah berharap menjadi Sunyi.

Tinggalkan komentar