Tentang Rahasia-Rahasia

Tentang Rahasia-Rahasia

Sudah lama aku tak berkisah tentang aku yang kini menyimpan banyak rasa dan rahasia. Tentang diriku yang hanya terlihat baik-baik saja dan banyak tertawa. Tentang raut wajahku yang berseri layaknya sinar matahari tak berkesudahan.

Perasaanku sungguh sangat tidak tercerminkan oleh siapapun. Tak tergambar, tak tersentuh. Di satu sisi, aku berusaha untuk bersikap tenang dan berusaha rasional. Di kemudian waktu, aku merasa terlalu jatuh dan ingin menjauh. Rasa egoku makin memuncak tiap kali menghitung hari dengan jari. Penolakanku kuat adanya. Rasa ketidakberdayaanku nyata adanya.

Kata seandainya hinggap di langit-langit pikiranku. Setiap hari berdoa dan berharap pada Tuhan agar kesulitanku tiap hari akan berlalu. Sama halnya seperti ombak pasang yang akan reda di malam hari. Aku harap, malamku akan tenang suatu hari nanti.

Bayangan tentang aku yang berjalan sendiri diantara pohon-pohon sakura yang berjejer rapi selalu hanya menjadi mimpi di tengah gulita. Rasanya, kesulitan yang aku hadapi sungguh tak memberi maaf. Sungguh benarkah aku sangat bersalah untuk bersikap sesuai kehendakku? Salahkah aku memanfaatkan egoku sendiri? Salahkah aku menjadi penyendiri ketika orang-orang berusaha untuk terlihat menonjol?

Aku sungguh tertohok oleh tawaku sendiri. Aku sungguh terintimidasi oleh senyumku sendiri. Aku sungguh tersiksa dengan keramahan yang selalu aku usahakan. Lalu haruskah aku benar-benar bersikap tak peduli untuk tak terlihat?

Sesekali, jangan lihat aku dengan kacamatamu. Lihat aku sebagai orang yang memerlukan waktu untuk sendiri dan menikmati hidup. Sesekali, biarkan aku untuk tak banyak berfikir tentang masalah-masalah dan hidupmu. Sesekali, biarkan aku berjalan lurus dengan kebahagiaanku yang sebenarnya.

Rasanya sedihku mulai mati rasa. Mengiyakan saja dengan menganggukkan kepala. Menyetujui saja dengan berkata ‘ya’. Mulai lupa dengan dunia sendiri. Mulai sering lelah dan mengantuk di tiap-tiap waktu emas. Mulai tak tahu bagaimana memulai hari. Mulai bingung untuk mencari dan menyelesaikan.

Sesekali, jadilah temanku yang menanyakan “Sanggupkah dirimu?”

Seringlah tanyai aku bagaimana kabarku, bukan hanya jasad, tapi juga keadaan hatiku.

Cerita sebelum mega.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai