Embun bergelimang diantara semak-semak pagi ini
Bergantian saling memenuhi diantara riakkan hampa
Berkah tersampaikan pada fajar terkini
Kaki-kaki beralaskan jepit karet berlari tanpa nestapa
Cinta yang tumbuh begitu subur nan kokoh
Kenangan menjajaki seperti pedagang bunga di tepi jalan
Ramai oleh mewangi dan pelangi
Ajaibnya adalah ketika kita hanyalah tokoh
Sebagai wanita berkidung hujan
Yang rasanya agung untuk membayangi
Baru kemarin rasanya hujan berakhir
Bersisa kilau dan indahnya ciptaan ajaib Tuhan
Mengagumi kesempatan diantara celah-celah daun sore hari
Silaunya tak terjangkau hingga tak sanggup terpikir
Dimana dan apa yang membuat bahagia harus tertahan
Bersamamu, aku ingin berkidung hujan dan menari
Wajah-wajah mungil tertimpa tetes demi tetes
Kiranya satu tetes adalah rasa bahagia
Maka yang ada di sore itu adalah bahagia seribu waktu
Pagi tak selalu jadi istimewa
Sore menjelma menjadi seribu waktu
Dimana garis lengkung bibir berbekas lama
Yang juga membekas di dalam kalbu dan sang waktu

Tinggalkan komentar