Berkidung Hujan

Berkidung Hujan

Embun bergelimang diantara semak-semak pagi ini

Bergantian saling memenuhi diantara riakkan hampa

Berkah tersampaikan pada fajar terkini

Kaki-kaki beralaskan jepit karet berlari tanpa nestapa

Cinta yang tumbuh begitu subur nan kokoh

Kenangan menjajaki seperti pedagang bunga di tepi jalan

Ramai oleh mewangi dan pelangi

Ajaibnya adalah ketika kita hanyalah tokoh

Sebagai wanita berkidung hujan

Yang rasanya agung untuk membayangi

Baru kemarin rasanya hujan berakhir

Bersisa kilau dan indahnya ciptaan ajaib Tuhan

Mengagumi kesempatan diantara celah-celah daun sore hari

Silaunya tak terjangkau hingga tak sanggup terpikir

Dimana dan apa yang membuat bahagia harus tertahan

Bersamamu, aku ingin berkidung hujan dan menari

Wajah-wajah mungil tertimpa tetes demi tetes

Kiranya satu tetes adalah rasa bahagia

Maka yang ada di sore itu adalah bahagia seribu waktu

Pagi tak selalu jadi istimewa

Sore menjelma menjadi seribu waktu

Dimana garis lengkung bibir berbekas lama

Yang juga membekas di dalam kalbu dan sang waktu

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai