Seperti apa kriteria pria idamanmu? Tampan, tinggi, putih atau kaya? Seperti Lee Min Ho-kah? Atau memiliki kriteria lengkap seperti yang disebutkan di atas? Kalau ingin paket lengkap layaknya Lee Min Ho, kalian bisa mencari seorang pria tinggi, putih, tampan, kaya raya, bermartabat dan tentunya pria idaman seluruh kaum hawa bernama Raka Afrizal Setiawan.
Bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang Direktur muda di sebuah perusahaan yang diwarisi Ayahnya. Terlahir dan hidup dari keluarga yang secara turun-temurun berada dalam garis kaya-raya menjadikannya seorang pria yang digandrungi kaum hawa. Tidak hanya karena uang yang dihasilkannya, namun wajah tampannya bisa disandingkan dengan artis-artis Korea Selatan.
Namun, jangan memandang sebelah mata karena ketampanan rupa dan hartanya. Perusahaan yang dikelola Ayahnya (yang kini dikelola oleh Raka) awalnya hanya sebuah perusahaan game kecil. Setelah Ayahnya memutuskan pensiun, seluruh wewenang untuk mengelola perusahaan diberikan kepada anak satu-satunya, yaitu Raka. Ayah Raka tidak sembarangan memberikan perusahaan secara cuma-cuma kepada Raka melainkan pewarisan kekayaan itu ia berikan ketika Raka menyelesaikan studi S1-nya di Universitas Monash, Australia ketika umurnya 22 tahun.
Perusahaan mulai mengalami perkembangan yang signifikan di tahun ke-2 ketika Raka telah memimpin perusahaan yang telah dipengangnya hingga saat ini. Umur Raka saat itu sudah menginjak umur 24 tahun dan tahun ini, Raka akan berusia 25 tahun. Semakin bertambahnya umur Raka, semakin sering juga ia ditanya perihal membangun rumah tangga oleh Ayah dan Ibunya. Mengingat umur keduanya yang sudah mulai menua, tentunya orang tua Raka menginginkan seorang menantu yang nantinya akan melahirkan seorang keturunan yang akan memanggil keduanya Kakek dan Nenek. Namun, Raka terus memberikan alasan yang selalu sama, yaitu bahwa ia akan menikah ketika umurnya menginjak usia 27 tahun. Berarti baru 2 tahun lagi ia akan mulai mau untuk menikah.
~~~~
Hari Minggu adalah hari spesial bagi setiap orang di dunia. Pasalnya, hari itu adalah hari dimana orang-orang menghabiskan akhir pekannya dengan bersantai di rumah atau rekreasi bersama orang-orang terdekat. Semua kegiatan sekolah, perkuliahan dan perkantoran rehat sejenak ketika hari Minggu. Hal ini berlaku pula untuk Raka. Meskipun sebagai seorang direktur muda yang selalu bekerja keras, dia juga manusia biasa yang membutuhkan waktu istirahat dari sibuknya bekerja.
Raka lebih sering menghabiskan waktu akhir pekannya di rumah dengan membaca novel atau sekedar tidur-tiduran di atas kasur. Namun, ketika mood-nya sedang baik, ia akan belajar untuk memasak masakan yang mudah dan bersepeda ketika pagi hari di akhir pekan. Dan seperti biasa, siang adalah jadwalnya untuk menonton televisi.
Ketika sedang menonton film sambil menikmati sekotak popcorn, teleponnya berbunyi. Rupanya sahabatnya, Dimas yang menelepon untuk segera pergi ke cafe biasa yang menjadi tempat nongkrong mereka berdua. Karena katanya, ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak yang harus diberi tahu kepada Raka.
“Aduh, baru ingat aku! Mobilnya dipakai Pak Marto untuk menjemput Ibu di bandara. Harus naik taksi ini.” Raka menepuk jidatnya. Ya, ibunya baru saja pulang dari Jepang setelah berlibur berdua bersama Ayahnya. Raka merogoh sakunya untuk mencari dompetnya. Satu lagi ketidakberuntungannya hari ini. Dia lupa bahwa dompetnya ia letakkan di mobil yang dibawa oleh Pak Marto, supirnya. Namun beruntungnya, ia menemukan selebaran uang dua puluh ribu di saku celananya. Karena dengan jumlah uang itu tidak memungkinkan untuk menggunakan taksi, mau tidak mau Raka harus pergi menggunakan bus umum.
Akhirnya, berangkatlah ia dengan pengalaman pertamanya menaiki bus umum.
Ketika telah menaiki bus umum, Raka duduk di tempat paling belakang. Di samping kanannya, ada seorang pria yang diperkirakan umurnya sekitar 45 tahun-an dan di samping kiri-nya adalah seorang kakek tua yang tertidur pulas. Raka hanya menatap sekitar dan berpikir betapa beruntungnya ia selama ini dan patutnya ia bisa bersyukur lebih banyak.
Ketika bus berhenti di jalan menuju Universitas Indonesia, sebuah koin lima ratus jatuh dan menggelinding menuju kaki Raka. Kemudian seorang gadis berkerudung biru berjalan menuju pintu bus untuk keluar. Seperti dia salah satu mahasiswi di Universitas Indonesia.
“Permisi!” Raka berusaha memanggil wanita berkerudung biru itu namun gagal. Wanita itu tetap melangkah pergi karena tujuannya telah sampai.
Raka berusaha memanggilnya lagi sambil melangkah menuju pintu bus.
“Permisi!” Raka mengeraskan suaranya. Tetap saja usahanya untuk mengembalikan koin itu tetap gagal karena wanita itu telah turun dari bus yang ditumpanginya. Akhirnya ia kembali ke tempat duduknya semula. Dia hanya melihat sekilas wajah wanita yang kehilangan koin lima ratusnya. Hanya satu yang teringat dari wajah yang dilihat sekilas olehnya dari wanita itu, yang membuat hatinya tiba-tiba saja berdesir. Senyumnya.
~~~~
Raka sampai di cafe yang menjadi tempat nongkrong sekaligus tempat janjian ia dengan Dimas.
“Bro!” Dimas melambaikan tangannya. Ia duduk di pojok cafe. Raka bergegas menuju tempat dimana Dimas berada.
“Keringatan sekali, kau! Tidak biasanya bercucuran keringat! Duduk dulu.” Dimas bergeser untuk memberikan Raka tempat duduk.
“Ada apa menyuruhku kemari siang hari? Kau tahu kalau hari ini cuaca sangat panas, hah?” Raka sedikit kesal karena ketidakberuntungannya hari ini. Mulai dari mobilnya yang dipakai Pak Marto, dompetnya yang ketinggalan, hingga cuaca siang hari yang sangat terik.
“Aku punya kabar mendesak yang perlu kau dengar langsung dari aku, Ka! Kabar ini akan menjadi kabar gembira dan kau akan menjadi orang yang pertama tahu tentang hal ini.” Dimas begitu antusias untuk mengungkapkan ‘hal mendesak’-nya.
“Aku akan menikah!” Dimas tanpa basa-basi bersuara.
Bagi Raka, kabar tersebut adalah kabar yang sangat mengagetkan dunia dan akhirat. Bukan tanpa alasan Raka sangat kaget mendengar kabar bahwa Dimas akan menikah. Itu semua dikarenakan Dimas adalah pria paling playboy yang pernah Raka kenal diantara pria playboy yang ia kenal di seluruh jagat raya.
“Kau akan sungguh-sungguh menikah?” Tanya Raka masih dengan tatapan tak percaya.
“Kali ini aku tidak bohong. Do’akan aku, Ka!” Dimas begitu antusias.
“Wanita seperti apa yang mau dengan playboy sepertimu?” Raka masih tak percaya untuk kesekian kalinya. Senyum sinisnya mengembang.
“Aku ingin berubah, Raka. Aku tak mau selamanya menjadi seorang yang berganti-ganti pasangan kelas kakap. Aku juga ingin seperti yang lain. Tumbuh dewasa dan membina rumah tangga. Lagipula, aku juga belum pernah benar-benar berpacaran dengan calon istriku. Aku hanya melihatnya sekilas saja ketika pertama kali bertemu di rumahku.” Dimas menyeruput coklat dinginnya.
“Bagaimana bisa tanpa pacaran kau akan membina rumah tangga?” tanya Raka masih tak mengerti.
“Kau juga orang Islam. Kau pasti tahu ta’aruf, kan?” tanya Dimas pada Raka. Raka mengangguk. Raka tentunya tahu cara ta’aruf yang seringkali diperbincangkan orang-orang ketika mereka akan menikah. Tapi, tidak tahu secara detail mengenai hal tersebut.
Dimas akhirnya menceritakan kisahnya ketika bertemu calon istrinya secara mendetail. Kisah cintanya bermula 2 bulan yang lalu ketika sang wanita datang ke rumah Dimas bersama temannya untuk mengantar pesanan roti yang Ibu Dimas pesan. Rupanya sang wanita adalah anak dari teman Ayah Dimas yang memiliki toko roti yang terletak satu kompleks dengan Dimas. Pertama kali Dimas melihatnya, ada aura berbeda yang terpancar dari wanita berkerudung itu. Wajahnya cantik dan senyumnya manis. Sang wanita hanya mampir untuk mengantar pesanan roti dari Ibu Dimas.
“Dari situlah aku tahu bahwa ada yang tak beres dengan hatiku setelah bertemu dengannya. Lalu aku bertanya pada Ayah untuk mencari tahu lebih dalam mengenai sang wanita. Sempat aku berbincang dengan Ayah untuk diperkenalkan kepadanya agar aku bisa pacaran. Ayah bersedia untuk memperkenalkanku padanya, tapi bukan dengan tujuan pacaran melainkan menikah. Meski terdengar seperti buru-buru, tapi entah mengapa aku begitu mantap, mengangguk dan siap. Jadilah aku datang sendiri ke rumah sang wanita untuk mencari tahu lebih dulu, siapa sebenarnya dia?” Dimas meneguk coklat dinginnya sekali lagi.
Raka masih fokus mendengarkan.
“Hanya sekali saja aku bertemu dengannya, yaitu ketika kunjunganku pertama kali ke rumahnya untuk bersilaturahmi. Aku mengobrol sedikit dengannya yang saat itu juga ditemani Ayahnya. Setelah itu, aku bilang pada Ayah bahwa aku siap dan kali ini tidak ingin main-main. Jadilah seminggu yang lalu aku melakukan lamaran bersama seluruh keluarga besarku ke rumahnya.” Dimas mengakhiri kisah ‘Calon Istriku’ dengan senyum yang sangatlah lebar. Bukan senyum seorang Dimas melainkan senyum ‘Calon Suami’.
Raka hanya melongo saja mendengar kisah Dimas yang dirasanya tidak akan pernah terjadi. Satu yang ada di pikirannya saat ini. Sahabatku benar-benar gentle!
Sepulang dari cafe, Raka masih terus saja memikirkan koin lima ratus yang kini masih di genggamannya. Ada satu lagi yang ia pikirkan lebih dalam selain koin perak lima ratus itu. Ya, wanita berkerudung biru. Siapa gerangan? Raka bukan tipe pria yang mudah terpikat oleh seorang wanita, siapa pun itu. Namun, kali ini berbeda. Hatinya benar-benar berdesir ketika melihat senyum sekilas wanita berkerudung biru itu.
Satu kelemahan Raka dalam hal ini bukanlah mengenai tahta, harta atau wanita. Ini semua tentang kepercayaan yang dia anut selama ini. Tentang agama yang seharusnya menjadi tiang bagi hidupnya selama ini. Betapa butanya ia terhadap Islam.
~~~~
Keesokkan harinya, sebelum melakukan rutinitasnya menuju kantor, ia mencoba mampir ke Universitas Indonesia untuk mengetahui sosok wanita yang sangat ingin Raka ketahui. Meski tidak tahu namanya dan bagaimana rupanya, setidaknya senyum wanita itu memiliki perbedaan yang mencolok baginya. Senyumnya meneduhkan siapapun yang melihatnya.
Raka duduk di taman Universitas Indonesia sambil memperhatikan setiap wanita berkerudung yang lewat. Sampai pukul sembilan, Raka mulai gelisah karena tidak ada satupun wanita berkerudung yang lewat di taman itu. Akhirnya Raka pergi ke Bagian Informasi untuk mencari informasi mengenai wanita berkerudung biru.
“Permisi, Mbak. Saya mau tanya mengenai seorang mahasiswi dengan senyum yang teduh. Kira-kira Mbak tahu tidak?” tanya Raka sedikit ragu.
Resepsionis itu terlihat bingung. Tentulah bingung. Siapa yang tidak akan bingung kalau ada seseorang yang mencari wanita dengan senyum yang teduh?
“Bisa sebutkan namanya?” tanya resepsionis yang bernama Inka itu.
“Hmmm … begini, Mbak. Saya tidak tahu pasti namanya karena saya belum pernah bertemu dengan dia. Hal yang paling saya ingat dari wajahnya hanyalah senyumnya yang meneduhkan. Siapa tahu Mbak juga tahu bahwa hanya ada satu wanita dengan senyum meneduhkan. Orangnya pakai kerudung, kok, Mbak.” Jelas Raka agak lebih rinci.
Mbak Inka, sang resepsionis itu mencoba mengingat-ingat seorang wanita berkerudung dengan senyum menedukan seperti yang Raka deskripsikan. Lama sekali Mbak Inka menatap atap gedung, keningnya berkerut hingga sesekali memonyongkan bibirnya. Tanda bahwa dia berpikir sangat keras untuk membantu Raka menemukan seseorang yang dicarinya. Wanita dengan senyum meneduhkan.
Setelah hampir 20 menit berpikir, membolak-balikkan kertas yang berisi data-data seluruh mahasiswi Universitas Indonesia dan sesekali berlari menuju komputer untuk terus mencari foto-foto yang dicari Raka.
“Mbak Inka, boleh minta kertas hvs, tidak?” tanya seorang wanita.
Raka takjub seketika. Itu dia! Wanita dengan senyum meneduhkan. Raka hanya bisa terdiam dan melongo. Resepsionis itu hanya mengangguk paham melihat ekspresi Raka yang berubah menjadi seperti orang termantrai oleh sihir yang kuat. Tak berkutik.
“Mas, wanita ini yang dimaksud?” tanya resepsionis itu membuyarkan lamunan Raka. Wanita dengan senyum meneduhkan itu sekarang tepat berada di hadapannya. Raka buru-buru mengangguk.
“Cantik.” Jawab Raka tiba-tiba. Wanita yang saat ini berkerudung abu-abu itu sedikit terganggu dengan ucapan Raka barusan.
“Em … maaf. Bukan maksud saya untuk bersikap seperti itu. Nggg … saya … saya Raka.” Raka mengulurkan tangannya ke hadapan wanita itu. Wanita itu menolak dengan cara halus. Wanita berjilbab itu hanya tersenyum, menyatukan kedua tangannya dan menunduk.
“Oh, iya. Maaf.” Raka menarik tangannya kembali. Dia mengerti bahwa dengan lawan jenis yang belum menikah tidak boleh saling bersentuhan.
“Boleh bicara berdua saja?” tanya Raka. “Di taman?” lanjut Raka kemudian.
“Mungkin tidak harus di tempat sepi. Boleh bicara disini saja?” tanya wanita itu tetap tenang.
Raka melihat ke arah resepsionis yang sedari tadi memperhatikan Raka dengan wanita berkerudung abu-abu itu. Raka agak merasa canggung dan bingung. Ia lalu mengeluarkan koin perak lima ratus yang sebenarnya milik wanita yang sekarang berada di hadapannya. Niat Raka hanya satu. Mengembalikannya. Karena baginya, seberapa sen pun sebuah uang, baginya selalu berharga.
“Ini.” Raka mengulurkan tangannya yang terdapat koin perak lima ratus berjumlah lima ratus rupiah.
Wanita itu mengerutkan keningnya.
“Hmmm … begini. Kemarin siang, saya naik bus umum yang juga kamu naiki. Saat kamu mau turun, koin ini jatuh. Saya berniat untuk mengembalikannya kepada kamu, tapi kamu sudah sampai tujuan. Jadi, yaaa … seperti itulah. Kamu tahu ceritanya selanjutnya.” Raka masih saja merasa gugup. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat gugup di hadapan seorang wanita yang belum dikenalnya.
“Ooooh ….” Wanita itu hanya mengangguk tanda bahwa ia mengerti cerita selanjutnya dan mengerti yang terjadi hari itu. Wanita itu menerima koinnya yang ditemukan Raka.
“Kalau begitu, saya permisi dulu karena ada kelas sebentar lagi. Terimakasih sudah menemukan koin perak ini. Assalamu’alaikum!” Wanita itu melangkah pergi.
Raka teringat sesuatu. Lalu dia berlari mengejar wanita itu.
“Maaf, menghalangi pergi. Sebentar saja. Boleh tahu namamu?” tanya Raka.
“Khanza.” Singkat saja wanita dengan senyum meneduhkan yang ternyata memiliki nama yang indah, seindah senyumnya. Khanza.
“Boleh aku tahu dimana rumahmu?” tanya Raka merasa tak sabar dan sangat bahagia.
“Rumahku? Untuk apa?” tanya Khanza.
“Aku ingin menikahimu.” Datar saja Raka mengucapkannya. Seakan-akan dia bersungguh-sungguh mengucapkannya.
Khanza terlihat sangat kaget dengan pernyataan Raka terhadapnya. Lalu senyum tipis tersungging di wajahnya. Raka merasa khawatir atas kata-katanya yang terkesan sangat tiba-tiba. Apakah ia bersungguh-sungguh mengucapkannya? Apakah wanita yang bernama Khanza itu akan benar-benar mencintai?
~~~~
Malamnya, Raka memutuskan untuk menelepon kedua orangtuanya dan berkata bahwa ia akan mewujudkan impian kedua orangtuanya. Menikah.
“Do’akan Raka saja, Bu.”
“Tapi kamu sudah tahu bagaimana orangya? Latar belakang keluarganya? Pekerjaannya?”
“Nanti, kalau memang keputusan Raka sudah bulat, akan Raka perkenalkan secepatnya kepada Ibu dan Ayah.”
“Ya, sudah. Yang penting Ibu dan Ayahmu ikut kamu saja. Kalau memang merasa cocok dan anaknya baik, Ibu dan Ayah terima saja. Yang penting kamu bahagia dengan calon istrimu.”
~~~~
Keesokkan harinya, Raka benar-benar pergi ke rumah Khanza, wanita yang dikenalnya lewat sebuah koin perak seharga lima ratus rupiah yang terjatuh di bus umum. Pukul sembilan pagi tepat, Raka tiba di rumah Khanza.
“Assalamu’alaikum!” Raka mengetuk pintu rumahnya.
Keluarlah seorang wajahnya terlihat sangat mirip dengan Khanza hanya saja sudah berumur. Sepertinya Ibunya.
“Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Khanza?” tanya Raka sopan.
“Ya, benar. Anda siapa?” tanya Ibu Khanza tersenyum.
“Hmmm … saya Raka, Ibu. Temannya Khanza. Kebetulan sebelum pergi ke kantor lewat sini. Saya hanya ingin silaturahmi saja.” Raka mencari alasan yang tepat dengan perasaan campur aduk.
“Khanza tidak pernah cerita kalau dia punya teman seorang pria.” Ibu Khanza terlihat ragu dan curiga.
“Hmmm … saya juga baru kenal Khanza kemarin, Bu. Mungkin, Khanza belum cerita.” Raka terlihat malu-malu.
“Oh, kamu pria yang bilang mau menikahinya kemarin itu?” tanya Ibunya. Raka agak kaget. Ternyata Khanza sudah cerita! Gumam Raka senang dalam hati.
“Masuk, Nak. Ibu panggilkan Khanza dan Ayahnya dulu.” Ibu Khanza mempersilahkan Raka untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Ayah Khanza keluar. Raka mencium tangan Ayah Khanza dan memperkenalkan dirinya.
“Saya ingin bersilaturahmi dengan Om juga Tante. Selain itu, saya mau bertanya tentang Khanza, Om.” Raka mulai serius berbicara. Ayah Khanza mulai menyimak dengan saksama.
“Apa Khanza masih sendiri, Om?” tanya Raka merasa canggung untuk menanyai hal itu.
Ayah Khanza hanya tersenyum.
“Sebelum berbicara lebih jauh, Khanza sudah cerita kemarin ketika dia pulang kuliah. Dia cerita bahwa kalian baru saja saling kenal kemarin di kampusnya. Tapi, kamu tiba-tiba saja mengajaknya menikah. Begitu? Tapi apa memang sudah sesiap itu?” tanya Ayah Khanza.
“Hmmm … Saya mungkin kurang untuk urusan agama, Om. Tapi, saya ingin berusaha menjadi seseorang yang bisa membimbing anak Om suatu hari. Membangun keluarga yang dirahmatin oleh Allah.” Raka mulai ke pembicaraan pokok.
“Shalatmu bagaimana?” tanya Ayah Khanza lagi.
“Alhamdulillah, saya selalu sholat lima waktu, Om. Meski saya masih jarang sholat di masjid. Ilmu agama saya juga tidak begitu dalam. Tapi, saya punya keinginan dan harapan yang kuat dengan anak Om. Jujur, selama hidup saya, saya tidak pernah merasa gugup dan canggung dengan wanita kecuali anak Om. Saya tidak pernah pacaran karena bagi saya itu sangat merugikan. Seperti kata teman saya, laki-laki yang baik tidak akan pernah mengajak seorang wanita berpacaran. Saya ingin menjadi salah satu dari laki-laki itu, Om. Saya takut perasaan saya kepada anak Om akan menjadi fitnah di kemudian hari.” Raka masih gugup meski berbicara panjang lebar.
Ayah Khanza terdiam sebentar, lalu masuk ke dalam. Raka dilanda ketakutan dan kegugupan yang kian bertambah.
Setelah beberapa lama, Ayah Khanza keluar bersama Khanza. Wanita dengan senyum yang teduh itu terlihat tersipu malu dan tetap menunduk. Sekali lagi, Raka merasa sangat bahagia. Ayah Khanza duduk kembali diikuti oleh Khanza.
“Sekarang Ayah tanya sama kamu. Kamu bersedia menjadi istrinya, Khanza?” tanya Ayah Khanza pada Khanza dengan mantap. Khanza mengangguk malu.
“Baiklah. Karena sudah mendapat kepastian jawaban, tiga hari lagi kamu datang bersama dengan kedua orang tuamu kesini. Kita akan adakan lamaran secepat mungkin. Pernikahan yang disegerakan lebih baik. Selagi menunggu tiga hari itu, dalamilah ilmu-ilmu agama.” Ayah Khanza berbicara dengan penuh ketenangan. Raka terharu bahagia.
Rupanya, cinta bisa ditemukan dengan hal-hal sederhana. Tidak harus lewat sebuah hubungan, namun melalui sebuah kepercayaan. Percaya bahwa Tuhan akan mengiring hamba-Nya ke dalam kasih-Nya untuk dipertemukan oleh potongan jiwa imannya yang lain. Melalui hal sederhana, sesederhana koin perak lima ratus, cinta bisa tumbuh dalam kegigihan seorang Raka dan keteduhan senyum seorang Khanza.

Tinggalkan komentar