Tengah Hujan

Tengah Hujan

Kakinya tak sanggup lagi menahan letih

Lututnya telah goyah karena gumpalan pedih

Membuat nadi-nadi dan sendi-sendinya ikut tertatih

Meski cuaca tak pernah setuju dengan suasana hatinya yang sedang perih

Sayang, malam ini ia datang lagi menjemput duka

Yang terus ia ingat meski banyak menyimpan luka

Di matanya, di hatinya, di bibirnya bahkan di ujung hidupnya sedang menyeka

Menantikan kerinduan akan ucapan maaf dari sanubari ananda tersuka

Malam ini tengah hujan, sayang

Menciptakan suasana yang kian menyayat layak pedang

Raganya menggigil dingin membeku biru

Yang terlihat hanya pendar cahaya dari kamar seorang yang tersedu

Dia belum menyerah meski duduk bersimpuh

Di depan rumah yang begitu dingin ketika malam bertemu

Kekasihnya menjadi seorang pencinta di malam ketika dirinya berada di ujung tonggak luluh

Mencoba tabah bahkan ketika hati dihunjam rasa kelu memaksa untuk menjamu

Sorotan mata terlihat ingin menyerah

Tapi di sisi lain, jiwanya begitu harapkan sebuah kata

Hanya sebuah kata saja untuk mengangkat kerah

Jauh di dalam palung hatinya, dia sampaikan sebuah fakta

“Kau masih dunia untukku.”

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai