Kakinya tak sanggup lagi menahan letih
Lututnya telah goyah karena gumpalan pedih
Membuat nadi-nadi dan sendi-sendinya ikut tertatih
Meski cuaca tak pernah setuju dengan suasana hatinya yang sedang perih
Sayang, malam ini ia datang lagi menjemput duka
Yang terus ia ingat meski banyak menyimpan luka
Di matanya, di hatinya, di bibirnya bahkan di ujung hidupnya sedang menyeka
Menantikan kerinduan akan ucapan maaf dari sanubari ananda tersuka
Malam ini tengah hujan, sayang
Menciptakan suasana yang kian menyayat layak pedang
Raganya menggigil dingin membeku biru
Yang terlihat hanya pendar cahaya dari kamar seorang yang tersedu
Dia belum menyerah meski duduk bersimpuh
Di depan rumah yang begitu dingin ketika malam bertemu
Kekasihnya menjadi seorang pencinta di malam ketika dirinya berada di ujung tonggak luluh
Mencoba tabah bahkan ketika hati dihunjam rasa kelu memaksa untuk menjamu
Sorotan mata terlihat ingin menyerah
Tapi di sisi lain, jiwanya begitu harapkan sebuah kata
Hanya sebuah kata saja untuk mengangkat kerah
Jauh di dalam palung hatinya, dia sampaikan sebuah fakta
“Kau masih dunia untukku.”

Tinggalkan komentar