Satu titik di dunia ini adalah
Ia yang memaksamu untuk menetap lebih lama menghadapi esok
Yang akan selalu mengingatkanmu betapa mempesonanya ia
Satu titik di hatimu adalah
Cinta yang merengkuhmu selamanya meski tubuhmu jauh pergi
Ke hutan belantara dunia, dasar palung lautan, segitiga bermuda
Satu sinar itu adalah
Menyeruaknya kilat putih di suatu sudut
Melebar kian besar, menularkan rasa ingin tahumu untuk terus mendekatinya
Hingga kilat itu benar-benar terengkuh bersama hadirmu
Satu jalan yang kau lalui adalah
Membentur aspal hitam, menyapu jalan dengan gagah, bergesek usang sepatumu
Menyapa titik jalan dengan menawannya secercah yang kau bawa
Di ujung entah dimana itu
Kau akan selalu temukan kehangatan rengkuhannya
Kau cium bau tanah mewangi sehabis hujan disana
Kau rasakan angin merisau di sela-sela pepohonan
Tangis, tawa, amarah dan desah
Kau dengar disana
Kau akan temukan suatu titik itu
Titik yang akan selalu hadir, tak akan hilang ditelan waktu meski
Kau dalam senang atau susah
Titik itu, bernama rumah

Tinggalkan komentar