Darussalam Gontor mengenalkan sistem pengabdian setelah seorang siswi KMI menamatkan pendidikannya. Sistem ini dijalankan sebagai wujud syukur dan terimakasih kepada pondok yang telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman kepada para alumni. Pengabdian ini ditentukan dengan beberapa tempat seperti PMDG cabang, Universitas Darussalam Gontor Reguler, pondok alumni dan pengabdian bebas. Dalam bahasan kali ini, saya ingin sedikit bercerita tentang wujud birru-l-walidain yang ternyata benar-benar terjadi pada para alumni Gontor khususnya yang sedang menjalankan masa pengabdiannya.
Beberapa waktu yang lalu, para alumni 2018 yang ditempatkan mengabdi di Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri Reguler berkumpul di aula UNIDA untuk menentukan pengabdiannya. Apakah melanjutkan pengabdiannya hingga lulusan Strata 1 atau berhenti dan melanjutkan jenjang pendidikan S1-nya di luar Gontor? Ternyata, setengah dari alumni KMI 2018 memilih untuk melanjutkan diluar dan menyelesaikan pengabdiannya dengan satu tahun saja.
Beberapa hari kemudian, ada seorang teman mendatangi saya dan berkata bahwa orang tuanya menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikannya di UNIDA selama 4 tahun. Disitulah, teman saya ini mengalami dilema karena sebelumnya dia sudah yakin dengan keputusannya untuk melanjutkan pendidikannya di luar. Kemudian, saya teringat tentang larangan mengatakan ‘ah’ kepada orang tua, khususnya dalam hal kebaikan. Teman saya yang sedang dilema ini juga bercerita tentang kakaknya yang sebenarnya telah diterima di salah satu universitas ternama di Indonesia. Namun, sehari sebelum keberangkatan kakaknya ke universitas tersebut, Ayahnya menyatakan pengharapan bahwa kakak teman saya bisa masuk jurusan Ekonomi Islam. Akhirnya, kakak dari teman saya tersebut tidak meneruskannya.
Lalu, ada salah seorang teman saya yang lain. Dia memang telah berencana meneruskan studinya selama empat tahun di UNIDA. Namun, rasa gelisah dan iba tiba-tiba saja datang karena mendengar kabar bahwa Ayahnya hanya sendirian di rumah, kedua adiknya masih kecil sedangkan ibunya telah lama wafat. Teman saya merasa kasihan kepada Ayahnya karena tidak ada yang menemani di rumah. Dengan begitu, rasa percaya dirinya goyah karena rasa gelisah itu.
Kawan-kawanku semuanya …
Keinginan dalam diri memang terkadang memiliki dorongan yang sangat kuat sampai suatu hari akan ada saatnya kita merasakan sakit yang sangat karena keinginan itu dikalahkan oleh keinginan orang tua kita. Tidak bisa dipungkiri, saya sendiri pernah mengalaminya. Tapi, ketika kita semakin dewasa dan mulai bisa berpikir matang, kita harus bisa mengalah dari keinginan pribadi dan mengutamakan ridho dari orang tua. Karena tak selamanya apa yang benar-benar kita inginkan baik untuk kita. Allah tahu yang terbaik dan apa yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya.
Wujud berbakti tidak selalu dengan tindakan. Ketika kita patuh dan tunduk atas apa yang orang tua inginkan dan putuskan, itu sudah sebagian dari tindakan menghormati orang tua. Mereka tahu yang dibutuhkan anak-anak kelak. Mereka tahu, bagaimana seharusnya anak-anak mereka dibentuk dan dibina untuk menjadi ‘SESEORANG’.
Ketika semakin tumbuh dewasa, kita diberikan kemampuan batin agar lebih lapang untuk menerima rasa hidup yang sesungguhnya, kita diberikan kesempatan untuk lebih banyak berbakti kepada orang tua lewat sikap patuh dan memberi. Ketika orang tua merasa ragu akan diri kita, satu hal yang harus kita lakukan, MEYAKINKANNYA. Kita harus yakinkan bahwa kita akan baik-baik saja untuk pergi jauh dan menuntut ilmu. Yakinkan bahwa kita mampu untuk berjuang sendiri.
Hadapi.
Hayati.
Nikmati.
Tenang saja, setelah kesulitan selalu ada kemudahan.
Semangat S1, mahasiswi peneduh agama dan bangsa!
Tinggalkan komentar