Diawali dengan keinginan menggunggah salah satu foto saya di instagram, saya berusaha mencari quotes bagus supaya terkesan lebih instagramable. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencarinya di Google dan … quotes yang cocok akhirnya ditemukan. Quotes ini berasal dari salah satu novel yang belum kesampaian untuk saya baca. Novel dengan judul ‘Ibuk’ karya Iwan Setyawan.
Mendengar nama penulis Iwan Setyawan, saya teringat saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Bapak saya membelikan buku karya Iwan Setyawan yang berjudul 9 Summers 10 Autumns. Dari situlah, kemudian saya baca sinopsis dari novel Ibuk dan pada akhirnya, saya penasaran dan membelinya secara online.
Ketika pesanan buku telah sampai, saya langsung membacanya. Memang, awal dari alur yang diceritakan penulis terkesan ‘ngebut’ karena kejadian demi kejadian tidak diceritakan begitu detail dan terkesan ringkas. Namun, ketika saya sudah mulai menikmatinya, saya sangat takjub.
Memasuki halaman cerita yang mengisahkan kehidupan penulis ketika masa kuliah yang jauh dari rumah dan orang tua, secara tidak langsung saya teringat diri saya sendiri yang sedang mengalaminya saat ini. Ada rasa yang sama ketika penulis menceritakan kerinduannya terhadap kampung halaman dan rumahnya. Saya sangat tersentuh saat itu. Lalu, ketika penulis berhasil pergi menjelajahi tiap jengkal negara-negara besar di dunia. Ketika penulis berhasil memberikan uang hasil keringatnya sendiri kepada kedua orang tuanya. Ketika penulis membantu menafkahi biaya kuliah adik-adik dan kakak-kakaknya. Ketika Ayahanda penulis jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Dan malam itu, pertama kalinya dalam hidup saya, saya menangis karena membaca novel.
Sejak malam itulah saya berpikir, “Bagaimana saya akan menghadapi masa depan?”
Banyak sekali pertanyaan yang tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana kehidupan saya setelah ini? Kapan saya harus memaksa diri saya keluar dari zona nyaman saya saat ini?
Iwan Setyawan, lewat bukunya yang berjudul ‘Ibuk’ banyak mengajarkan saya tentang betapa dahsyatnya kekuatan doa dari keluarga, terutama Ayah dan Ibu. Iwan mengajari saya bagaimana kita harus menembus batas ketakutan yang kita punya dan percaya bahwa keterbatasan dalam menggapai mimpi dan cita-cita bisa ditepis lewat keyakinan dan keteguhan. Iwan Setyawan mengajarkan saya bahwa cinta seorang Ibuk benar-benar sebuah kekuatan doa, kekuatan senyum, kekuatan cinta yang akan menguatkan anak-anaknya sepanjang masa. Hal yang paling penting dalam hidup penulis adalah kepercayaannya kepada Allah bahwa hal baik akan selalu ada kepada orang yang mau percaya terhadap kuasa-Nya dan yakin bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.
Harus selalu ada yang dikorbankan. Harus selalu ada yang merelakan. Harus selalu ada yang berjalan jauh untuk mencapai sebuah kebahagiaan dan harapan. Semoga, kita bisa banyak belajar pada orang-orang yang telah banyak melalui pahit-manisnya hidup, seperti Iwan Setyawan, seorang anak tukang angkot dari Kota Apel yang melambungkan namanya sebagai Direktur di The Big Apple, New York, Amerika Serikat.
Semoga bermanfaat.
Tinggalkan komentar