Sebagai seorang ‘Thinker’, aku seringkali punya banyak pertanyaan yang hinggap di kepala. Bahkan, tak kenal waktu, kapanpun dan dalam keadaan tidak fokus, berbagai pertanyaan absurd akan hadir begitu saja.
2 tahun ‘pensiun’ jadi santri dan lulus jadi mahasiswa, setelah 8 tahun lamanya hanya bergelut dengan lingkungan teman dan guru saja, akhirnya aku bisa mencicipi dunia luar yang ternyata ‘tidak’ semenyeramkan itu, tapi juga ‘tidak’ sedamai itu.
2 tahun itu juga, aku dan teman-temanku semasa duduk di bangku SMA, bahkan ada yang hingga kuliah bersama mulai kembali ke kotanya masing-masing. Mencari jati diri, tujuan, dan mimpinya masing-masing pula. Maka dari situlah, perjalanan masing-masing dari kami dimulai.
Awal-awal saat sesudah wisuda, komunikasi kami masih terjalin dengan sangat hangat dan baik. Tak ada yang berubah dari kami karena kami pun belum begitu sibuk. Hanya keluh kesah sebagai manusia yang cukup kesulitan mencari pekerjaan di dunia yang ‘baru’.
Dan keluh kesah apakah lebih baik studi lanjut atau bertahan dengan terus mencari pekerjaan.
6 bulan berjalan setelah hari kelulusan, tampaknya kerenggangan itu mulai terasa. Bukan karena tak akur, tapi karena kami kini punya prioritasnya masing-masing. Bahkan, juga ada yang berubah ‘prinsip’.
Aku sempat merasa terlalu ‘kaku’ karena ternyata beberapa teman yang dulu bisa dibilang sangat dekat, ternyata berubah haluan dan berbeda ‘prinsip’. Kaku disini seperti aku merasa kurang nyaman dengan perubahannya, bukan dari sikap melainkan prinsipnya.
Hari, bulan dan tahun berjalan, ternyata semakin banyak dari teman-teman dekatku yang sepertinya ‘berubah’ prinsip. Aku ingatkan ya … bukan sikapnya, tapi ‘prinsip’-nya.
Aku sempat marah, merasa kacau dan kecewa. Karena dulu, kurasa kami berjalan bersama dengan prinsip yang sama, tapi, ternyata perpisahan juga bisa membuat prinsip kami jadi berbeda.
Namun, baru-baru ini, ada hal yang aku sadari.
Betapa prinsip orang bisa saja berubah tergantung bagaimana lingkungannya kalau ia tidak dengan teguh memegang prinsip yang dimilikinya.
Mungkin juga bukan hak-ku untuk memaksa mereka. Jadi, apa yang selama ini coba ku jalani adalah berusaha sebaik mungkin memberikan apa yang aku bisa dengan prinsip yang selama ini aku pegang.
Jadi, jadilah orang yang berprinsip. Supaya hidupmu punya arah, tak kacau yang nantinya berakhir kalut dan kecewa.
Aku masih berkomunikasi baik dengan mereka, namun tidak sering-sering karena sudah punya kesibukan masing-masing. Hanya beberapa teman satu kota saja yang bisa diajak main saat ini.

Tinggalkan komentar