, ,

Bergumam

Bergumam

Bulan Juni ini sangat penuh dengan drama-drama hidup. Ketika harapan-harapan baik dan bahagiamu dilambungkan, tiba-tiba dijatuhkan dua kali berturut-turut. Kamu ingin melepaskan tampuk kekuasaanmu saat ini, kemudian kau berjuang sekeras kau bisa untuk menyelesaikannya secara baik-baik, tapi hasilnya kau selalu menjadi pihak yang salah di mata siapapun. Entah organisasi sebelah atau para ‘suhu’ yang ‘memang tak pernah salah’.

Ketika satu hal muncul tentang alasan diundurnya rencana pertanggungjawabanku terhadap organisasi yang kupimpin selama tahun 2020 kemarin, other organization menyalahkan kami karena tak mampu untuk tepat waktu. Mengira kami tak bergerak, do nothing sampai bisa ‘terlambat’. Menyalahkan kami sebagai penyebab mundurnya pula mereka untuk turun tampuk. Di satu sisi, ada para ‘suhu’ yang memang tak bisa disalahkan karena mereka memang ‘tidak pernah salah’. Padahal, kami berusaha untuk menjalani segalanya senatural mungkin, tanpa pandang bulu.

Itu baru masalah kelompok perihal organisasi. Bahkan, diriku sendiri punya masalah, bro.

Sebagai hadiah, ternyata ada informasi mengenai dibolehkannya magang di luar kampus. Meski butuh banyak usaha untuk menemukan tempatnya, bahkan hingga meminta bantuan orang tua, setidaknya perjuanganku tidak sia-sia. Aku kemudian bergabung dengan temanku yang juga ingin magang di salah satu instansi penting di Bandung. Senang sekali.

Ketika seluruh persyaratan seperti proposal magang yang perlu diajukan ke prodi selesai kukerjakan, aku sudah mendapatkan surat pengantar, namun dalam tahap revisi karena ada beberapa kesalahan. Namun, lagi-lagi, rencana itu digagalkan dengan alasan bahwa beberapa daerah di Indonesia kembali zona merah.

Kau tahu bagaimana rasanya ketika perjuangan kerasmu yang kau lakukan sepenuh hati, tiba-tiba saja ditebas dengan cara sedemikian rupa? Wah, rasanya aku ingin menangis saja, ingin marah pula. Disalahkan berbagai pihak, padahal mereka saja belum mencobanya. Disalahkan ‘suhu’ padahal mereka yang punya andil besar atas kami yang sudah berusaha tepat waktu mengajukan berbagai dokumen, namun selalu dibenarkan dengan kesalahan-kesalahan remeh.

Semua temanku kecewa, pun aku. Semua orang ingin marah, pun aku.

Jadinya, kami sudah lelah mengharapkan untuk turun tampuk. Pikiran kami sudah tidak ingin banyak harap dan bersenang-senang. Kalau diberi waktunya, alhamdulillah. Kalau diundur terus, yo wes.

Jadi, ketika menanggapi mereka yang ‘sok tahu’ dan ‘kesal’ karena menganggap kami sebagai akar penyebab mundurnya acara mereka, maafkan kami. Kami memang selalu salah. Tapi, satu hal saja. Kalau memang laporan pertanggungjawabanmu sudah selesai, silahkan maju saja. Dahului kami. Tak apa, sungguh. Mengapa begitu? Setidaknya supaya kalian bisa lebih bahagia karena impian kalian terwujud untuk turun tampuk. Tidak seperti kami yang sudah tidak berharap sedikitpun karena telah dijatuhkan dua kali. Kami sudah bisa lebih biasa saja, inshaAllah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai