Jangan membicarakan umur. Umur hanya memberikanmu lebih banyak tanggung jawab.
-Vincenzo Cassano-
3 minggu merasakan nikmatnya kampung halaman, kasur nyaman nan empuk, rasa makanan yang ‘sungguhan’ lidah orang Sunda, dan suasana mendung lagi sejuk setiap harinya. Perasaan syukur tentunya yang harus dipanjatkan berkali-kali. Tapi, rupanya, ketika kamu berada seorang diri dan dalam keadaan hening, seseorang dengan ‘spesies’ sepertimu rupanya berisik dengan fikirannya sendiri.
Banyak sekali rencana yang tiba-tiba melintas, target-target yang ingin kau capai ke depannya, kemungkinan-kemungkinan negatif, sebab-akibat yang bahkan belum kau lakukan berkecamuk di dalam otakmu yang tidak seberapa. Tapi, begitulah hebatnya manusia. Begitulah hebatnya wanita. Bermilyaran fikiran memenuhi fikirannya, bersatu dengan kecamuk hati yang berujung pada risau di fikiran dan hati.
Kenikmatan dan nyamannya rumah, rupanya benar-benar sanggup mengalahkan semangat juang untuk menuntaskan studimu. Ya, tahun ini adalah tahun terakhirmu untuk mengemban pendidikan sebagai mahasiswi S1 (amiin).
Seharusnya, liburan ini aku tak benar-benar bisa menikmati ‘rasa liburan’. Bayangan ketika masih di kampus tentang liburan yang akan diwarnai dengan proposal skripsiku rupanya tak benar-benar mulus. Ada saja kendala besar yang muncul dari dalam diriku. RASA MALAS. Bagiku, cobaan besar. Sangat besar.
Aku terlalu khawatir. Banyak yang aku khawatirkan tentang masa depan yang bahkan belum jelas bayangannya. Banyak yang aku takutkan, padahal belum terjadi. Banyak yang aku risaukan, tak bisa kubawa tenang. Jadi, aku berusaha untuk menulis ini karena kian hari, aku kian tak percaya diri dengan segala yang aku lakukan. Bahkan, tentang studi dan ilmuku selama ini.
Umurku baru menginjak 22 tahun. Tapi, bebannya sudah cukup terasa, meskipun aku tak tahu bagaimana rasanya ketika diriku akan menginjak 23. Ketika permasalahan bukan lagi tentang teman yang bertengkar, tapi tentang ‘mau apa kau setelah ini?’, ‘kapan kau akan menikah?’, ‘apa yang akan kau lakukan setelah lulus S1?’. Sungguh, pertanyaan yang membebani, tapi menjadi pukulan telak bagiku yang masih seringkali berleha-leha dan bercanda dengan realitas.
Semoga Allah terus menguatkan kita semua.
Amin

Tinggalkan komentar