Kicau burung adalah pembuka untuk mereka yang menginginkan nostalgia
Karena kicauan burung layaknya tuts piano yang mengirama diantara jari-jari sang maestro
Embun pagi layaknya air gunung yang segar tak terbilang
Berharap kesegarannya sampai pada tubuh yang sedang layu
Kukatakan ada senyum di halaman rumah, senyum hangat
Sang maestro menenangkan diri dengan segelas kopi pagi
Dan aku tenang karena senyum hangat cerahnya pagi
Aku duduk di halaman rumah berdampingan dengannya
Bincangku rupanya menyenangkan
Maestro berkata lembut diterpa sinar pagi, hmmm …
Sempurna sekali pagi ini
Tuturnya dipenuhi dengan keteduhan hati dan ilmunya
Rangkaianya begitu indah sampai ingin aku mengulangnya beribu kali
Tulusnya memberkahi siapa saja yang mendengar lagi menatap
Wajahnya sungguh teduh, oh maestro
Maestro pesankan aku roti hangat yang nikmat
Dia umpamakan bahwa aku harus seperti roti nikmat ini
Yang seringkali disiksa dan dikasari agar tercipta sebuah karya seni yang berguna dan nikmat untuk disantap
Aku harus seperti roti itu
Yang diumpamakan diriku kelak di satu hari, di sebuah masa depan dalam waktu yang lama
Aku harus menjadi seperti roti itu
Yang melewati banyak derita untuk menjadi seorang pemenang yang berguna
Bincang hangat di pagi itu
Bersama maestro yang kini memelukku hangat
Sehangat senyumnya ketika meneguk kopi pagi
Seluruh tuturnya pagi ini sungguh menggetarkan hatiku
Sekali lagi ia merengkuhku ke dalam peluknya
Maestro itu bernama Ayahku

Tinggalkan komentar