Tertegunku di hari tengah
Deras air peluh melenguh melewati nadi-nadi ragaku
Artikan aku sebagai anugerah dan berkah dari Pemilik Masa
Aku berhutang nyawa dan nama
Beruntunglah pada mereka yang miliki batin selembut mereka yang ingin merasakan surga
Aku menggumamkan para pejuang kehidupan dalam benak
Benarkah sesulit itu melawan kejam
Tentulah kabar baik sangat dinanti
Peluhmu, ibunda
Entah kau rasakan untuk menyerah atau tidak
Rasaku hanya inginkan menangis di peraduanmu
Menimang batinmu yang lelah karena banyaknya luka di hatimu
Tentang hidup ini yang nyatanya kejam dan runyam
Peluhmu, ayahanda
Entah kau merintih atau memapah jejak-jejakmu
Rasaku hanya inginkan peluk hangat tubuhmu
Menggenggam erat jari-jarimu, menarikmu dalam senyumku
Untuk menyembuhkan luka kakimu dan hatimu
Hari ini kulihat abang pergi ke ladang
Bertani terik dan rintik yang terus melewati tiap helai rambut hitamnya
Menyerang rasa sakit di tiap-tiap lapisan tulangnya
Datanglah kemari
Biarkan aku rasakan peluhmu juga

Tinggalkan komentar