Ini Ternyata …

Ini Ternyata …

Ada cerita mengesankan bagi saya, khususnya dalam mempraktekkan segala sesuatu yang pernah saya dapatkan di Gontor. Dan kesan pertama ketika melakukannya adalah, “Wah, ternyata seperti ini, ya?”

Liburan tiba bagi seluruh mahasiswi Unida. Setelah penat dengan segala aktivitas Ujian Akhir Semester yang dimulai pertengahan bulan April kemarin, akhirnya momen yang paling ditunggu oleh para perantau adalah pulang ke kampung halaman. Termasuk saya yang akan pulang ke rumah saya yang terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Kebetulan, dua orang teman saya yang berasal dari Medan dan NTB ingin ikut ‘mencicipi’ Kota Bandung yang menyegarkan dan menyenangkan. Jadilah saya menghabiskan 4 hari awal liburan saya dengan berkeliling Bandung, mulai dari Trans Studio Bandung, Braga, Museum Konferensi Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Bandung Indah Plaza, Gramedia dan Bandung Electronic Center. Sampai badan pun pegal-pegal karena tiap harinya terus menjelajahi Kota Bandung.

Setelah kedua teman saya pulang, akhirnya bisa dibilang saya gabut-MENGANGGUR. Pekerjaan yang bisa saya lakukan dirumah mungkin mencuci baju, membaca buku, mencuci piring dan hal-hal lain yang biasa dilakukan oleh para anak perempuan lainnya. Lalu, ayah saya berkata untuk belajar mengajar anak-anak kecil mengaji selagi di rumah dan juga karena saya memperoleh libur yang panjang, yaitu 2 bulan. Hal ini disarankan untuk mengisi kekosongan dan liburan yang benar-benar berkualitas dan bermanfaat.

Nah, ternyata Ibu saya bercerita mengenai Gerakan Maghrib Mengaji bagi anak-anak di sekitar rumah. Jadi, setiap setelah shalat Maghrib, banyak anak kecil yang datang ke rumah saya untuk belajar mengaji. Dari situlah, Ayah saya meyuruh saya dan adik saya (yang sedang menempuh pendidikan di KMI Gontor Pusat juga) untuk membantu Ibu saya mengajar membaca iqro’. Awalnya memang agak canggung, tapi ternyata menyenangkan.

Inilah salah satu pengalaman saya menjadi ‘guru’ meski baru pertama kali. Ini juga yang menjadi langkah awal saya untuk menunaikan hasil dari ‘amaliyah tadris’ yang pernah saya praktekkan ketika masih duduk di kelas 6 KMI Gontor Putri.

Dari mengajar anak-anak mengaji inilah, saya khususnya, bisa melatih batin saya bagaimana menyayangi terhadap anak-anak. Dari sini pula, saya bisa melatih dhomir saya bagaimana berkomunikasi dengan anak yang cenderung pendiam dan anak yang aktif. Dari sini pula saya mengolah kemampuan saya dalam mengajar kembali. Bertemu dengan anak-anak yang banyak sekali bertanya karena mereka mulai ingin mengenal dunia. Bertemu denga anak-anak yang banyak bertingkah karena mereka ingin diberi banyak perhatian.

Ini ternyata yang ingin Gontor ciptakan dari para alumninya. Menjadi seorang pengajar, menjadi seorang penebar kasih sayang dengan ilmu dan amal. Menjadi sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang siap meninggikan nama-Nya dengan ilmu dan amal. Menjadi seorang muslim dan muslimah yang tahu bahwa menyebar kebaikan tidak hanya dengan harta, melainkan dengan ilmu.

Rabbanaa zidnaa ‘ilman warzuqnaa fahman. Amin

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai