Yang Muda, Yang Memilih

Yang Muda, Yang Memilih

Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Mengapa demikian? Pesta demokrasi untuk memilih para wakil negeri yang akan membawa bangsa Indonesia menuju perubahan dan kemajuan dilaksanakan di seluruh wilayah Nusantara. Mulai dari kaum emak-emak, bapak-bapak, tukang ojek, pedagang di pasar dan anak-anak generasi milenial turut andil dalam memilih presiden, wakil presiden dan anggota legislatif.

Saya adalah seorang ‘pemula’ dalam agenda coblos-mencoblos para wakil negara dan juga celupan kelingking pertama saya selama 19 tahun terakhir hidup sebagai Warga Negara Indonesia. Bagaimana rasanya? Ya, bisa dibilang ada rasa berkesan dan bangga karena akhirnya dan nyatanya saya sudah ‘dewasa’ dan cukup umur untuk bisa berpartisipasi dalam memilih mereka yang akan memajukan Indonesia 5 tahun ke depan.

Sebelum menjajaki pendidikan sebagai seorang mahasiswi, saya tidak pernah tertarik dengan politik ataupun pemilu karena pada dasarnya, saat itu bukan masanya bagi saya untuk memikirkan politik. Namun, ketika mulai masuk dunia perkuliahan sebagai mahasiswi, saya merasakan tuntutan bahwa seorang akademisi harus ‘melek politik’, mau apapun program studi yang dia ambil. Namun, kebetulan saya juga mengambil jurusan Hubungan Internasional yang memang sudah menjadi keharusan untuk memahami dunia politik. Dan akhirnya, karena adanya keterpaksaan untuk ‘melek politik’ itulah saya tergerak untuk mencari tahu bagaimana, siapa dan apa yang sedang ramai diperbincangkan netizen di media sosial terutama dalam pemilihan presiden.

Sebelum acara pemilihan umum ini, tentu seluruh masyarakat Indonesia telah banyak mencari informasi mengenai orang-orang yang akan mereka pilih sebagai wakil-wakil negara, mulai dari rekam jejaknya di dunia pendidikan, politik dan sosial, latar belakang keluarganya bahkan pelanggaran-pelanggaran yang para calon-calon wakil negara itu lakukan sebagai tolak ukur untuk memilih.

Meskipun baru pertama kali ikut serta dalam memilih presiden dan anggota legislatif, saya-dan mungkin kalian semua juga- merasakan atmosfer yang sangat berbeda mengenai pemilu tahun ini dengan pemilu di tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, dulu ketika orang yang memilih golput terhadap hak suaranya merasa biasa saja, namun tahun ini orang yang memilih golput terhadap hak suaranya akan merasakan kerugian yang sangat besar. Adanya kompetensi ketat yang terjadi antara kedua paslon menjadikan pemilu ini begitu panas, tidak hanya masyarakatnya melainkan pihak-pihak media, pemerintahan hingga para ulama. Sampai saya pribadi merasakan bahwa pemilu kali ini rawan akan kecurangan.

Harapan saya dan khususnya seluruh bangsa ini terhadap pemilu tahun ini adalah terlaksanakannya asas pemilu yang menggaungkan LUBER JURDIL, sehingga Indonesia dapat dipimpin oleh pemimpin yang Shiddiq terhadap perkataanya, Amanah terhadap tugasnya sebagai kepala negara, Tabligh terhadap janji-janjinya dan Fathanah dalam menyelesaikan segala problema negara dalam meyejahterakan rakyatnya.

Ya Allah, jangan berikan kami pemimpin yang tak sayang pada rakyatnya dan tak sayang pada-Mu. Tapi berilah kami pemimpin yang mampu menjadikan bangsa ini aman dan damai, mencintai rakyatnya dan mencintai-Mu sepenuhnya. Amin.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai