Pukul empat sore
Sang piawai terhembus bersama pekatnya oranye
Tersadari sesuatu indah sedang berusaha lahir
Dia tebaskan angin berkali-kali
Berusaha menembus sebuah ilusi jadi puisi
Pukul lima sore
Sang mega mengajakku bersemilir
Terbang mengitari pematang sawah berdesir, bergemerisik
Mata terpejam, hanya senja dan angin menyapa
Seakan-akan biru dan oranye adalah raja
Pukul enam sore
Akulah saksi padu warna nan indah
Saat ini kutahu bumi tertawa renyah
Menyaksikanku erat bersama peluk hangat genggamannya
Di hadapan mega merah yang mewah, aku dan dirinya menjadi sebuah bayang
Indah, bagai sekelompok burung gereja
Yang tak pernah berhenti untuk terbang bersama
Tinggalkan komentar