Jadi Mahasiswa Yang Wajar?

Sebaik-baiknya masa adalah masa menuntut ilmu.

Kita pernah mengalami masa sekolah dasar, dimana masa ini menjadi masa yang menyenangkan karena belajar dibarengi dengan bermain, uang jajan terpenuhi, buku-buku cerita bergambar dan sebagainya. Namun, semakin beranjak dewasa, kebiasaan ketika zaman sekolah dasar pun hilang satu-persatu. Tidak ada lagi istilah belajar dan bermain, yang ada adalah belajar, belajar, belajar dan sistem kebut semalam. Uang jajan harus disisihkan sedikit karena kebutuhan diri lebih banyak dibandingkan kebutuhan perut, terutama pada wanita.

Dan masa puncak seorang remaja menuju dewasa adalah masa perkuliah atau masanya ngampus. Memenuhi kebutuhan hidup untuk membeli alat-alat pribadi, untuk perut yang suka mengamuk di siang bolong, buku-buku kuliah yang harus dibeli sebagai referensi tugas atau mata kuliah karena kalau tidak, urusannya bisa gawat.

Namun, terkadang ada saja yang usil menambah-nambah kebutuhan hidup yang seharusnya tidak dipenuhi. Bolehlah beli lipstick, lipbalm, maskara, eye linersunblock dan sejenisnya tapi juga harus dengan kebutuhannya masing-masing. Jika perlu. Tapi, untuk pewarna rambut, cat kuku yang sifatnya waterproof, apa perlu? Dan itu dilakukan oleh seorang muslim. Jika anggapan karena memakai kerudung sehingga tidak terlihat oleh orang lain, sebenarnya salah.

Memang islam tidak mengharamkan untuk mewarnai rambut, tapi pertanyaannya adalah APA MANFAATNYA? Jika memang manfaatnya besar dan menguntungkan diri sendiri, silahkan. Tapi, jika tidak bermanfaat sama sekali, tinggalkan lebih baik. Justru itu namanya membuang-buang uang yang harusnya dipakai untuk kebutuhan lain yang lebih baik. Lalu, apa cat kuku itu penting. Boleh memakai hena untuk mempercantik diri, tapi bukan yang waterproof karena air wudhu tidak akan bisa masuk dan sholat jadi tidak sah.

AYO JADI MAHASISWA YANG WAJAR-WAJAR SAJA, TAPI TIDAK WAJAR DALAM MENCETAK PRESTASI

Mahasiswa wajar bukan berarti kampungan atau tidak modern. Justru terkadang, orang yang melakukan hal-hal seperti ‘brandalan’ bahasa kasarnya, sebenarnya norak karena mereka ingin terlihat modern dan terlihat terdepan dalam hal-hal seperti itu dan mereka menganggap diri mereka ‘keren’ dengan itu semua.

Mahasiswa yang wajar bertindak sesuai dengan nalar fikiran dan hati nurani mereka. Membeli apa yang harusnya dibeli, melakukan apa yang harusnya dilakukan, memberi selalu, meminta tidak pernah. Bukannya melihat temannya melakukan apa, membeli apa, hanya bisa mengikuti untuk beli dan kerja. Itu sama saja dengan mahasiswa tidak berprinsip.

Kalau memang anggapan “Ya udah, sih. Wajar udah mahasiswa, udah gede, gak perlu diatur lagi.” Salah besar sebenarnya. Bolehlah ‘sudah besar’, ‘sudah mahasiswa’ diutarakan, tapi ungkapan ‘tidak perlu diatur’ itu yang salah. Itu bukan MAHASISWA WAJAR. Semakin besar, semakin dewasa, harus semakin berhati-hati terhadap tindakan, sikap dan perkataan. Karena pada hakikatnya, manusia akan terikat oleh peraturan apa pun itu sampai ia menemui ajalnya.

Maka, mari kita belajar sederhana, mari kita belajar menjadi manusia yang luar biasa dengan ibadah dan cukupkan pada hal duniawi. Apalagi kehidupan mahasiswa memiliki banyak sekali waktu luang yang bisa digunakan untuk banyak berkarya dan beribadah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai