“Perempuan kok kayak gitu?!”
“Dasar wanita aneh!”
“Pasti perempuan nakal!”
Aku terus berjalan, tak menghiraukan desas-desus yang terendus sampai telingaku.
Aku tak peduli.
Sungguh, aku tidak peduli sama sekali.
***
PRANG!!!
“Emang dasar adik sialan!” Bang Tata menendang punggung Rara sampai Rara tersungkur. Rara hanya bisa merintih kesakitan sambil memegangi punggungnya dan menahan tangis.
“Kamu pikir cari uang gampang?! Pagi, siang, malam kerja narikin duit cuma buat kamu! Kalau kamu bukan adik Abang, sudah Abang buang kamu ke panti asuhan! Cuih ….” Bang Tata meludahi Rara.
Rara berontak, “Kalau aku juga bukan adik Abang sudah aku hajar Abang sampai mati!” Teriak Rara kencang. “Dasar Abang gak tahu diri!” Rara menendang pintu dan berlari keluar sambil memegangi punggungnya yang masih sakit.
Bang Tata berkaca pinggang dan menyumpahi adiknya yang lari keluar.
Dasar Abang tidak berguna! Siapa pula yang mau menghabiskan hidup dengan Abang yang kasar dan jahat seperti dirinya? Seharusnya adik perempuan disayangi, dimanja. Ini malah diperlakukan semena-mena. Andai saja aku mati saja dengan Ibu dan Ayah saat pembunuhan itu. Kenapa juga aku harus selamat? Kenapa Bang Tata tidak membunuhku juga? Dasar Abang tidak tahu diri! Umpat Rara dalam hatinya.
Ini adalah kesekian kalinya Bang Tata memukulinya tanpa ampun. Jangankan hanya punggung. Perut, kepala, tangan, pipi atau mungkin seluruh tubuhnya pernah dijadikan santapan empuk untuk dipukuli. Hal yang sudah lumrah bagi Rara. Sudah tidak asing bahwa setiap harinya akan selalu ada adu mulut dan baku hantum dengan benda-benda di rumahnya yang dilakukan oleh Bang Tata. Lebam biru? Sudah biasa bahkan menjadi mati rasa.
Keluarga Rara punya cerita pilunya sendiri.
Dulu, Ayah Rara bekerja sebagai tukang sol sepatu yang berkeliling ke desa-desa menawarkan jasanya. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sakit-sakitan. Saat itu, Bang Tata masih berumur 18 tahun yang bekerja sebagai kuli bangunan dan umur Rara yang baru menginjak 14 tahun bekerja menjadi tukang cuci piring di warung makan Bu Dede di pinggir jalan. Jaraknya hanya 5 menit dari rumahnya. Gajinya memang tidak seberapa tapi cukup untuk menambah kebutuhan pangan di rumah.
Keluarga Rara bukan keluarga yang memiliki riwayat pendidikan yang tinggi. Faktor ekonomi menjadi alasan utamanya. Pendidikan terakhir Rara dan Bang Tata adalah Sekolah Dasar. Setelah tamat dari Sekolah Dasar, keduanya mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga. Sebenarnya kedua orangtuanya menginginkan mereka melanjutkan pendidikan mereka ke SMP Negeri, tapi Rara dan Bang Tata bersikeras ingin bekerja dan dengan tegas mereka tidak ingin sekolah lagi karena beranggapan membuang-buang waktu dan uang.
Namun tragis sekali, kedua orang tua mereka mati dibunuh pada tengah malam. Mungkin akan lain ceritanya kalau saja pembunuh itu dari orang yang tidak dikenal. Namun siapa sangka, pembunuh itu adalah anaknya sendiri, Bang Tata. Malam itu Bang Tata mabuk berat sampai tak sadar karena pikirannya kacau, lalu dia mengeluarkan pisau dari kantung bajunya dan tega membunuh orang tuanya sendiri. Bang Tata sangat menyesal atas perbuatannya, tapi apalah daya air susu sudah tumpah. Akhirnya, Bang Tata divonis 15 tahun penjara dan Rara menyimpan rasa bencinya hari itu hingga 16 tahun lewat pun, rasa benci itu tidak pernah hilang.
Baru satu tahun Bang Tata keluar dari penjara, dirinya kian liar. Menjadi tukang palak di pasar dengan alasan dirinya masih ditakuti karena baru keluar dari penjara. Dia juga beralasan bahwa ‘yang penting tidak mencuri’. Umur Bang Tata sekarang 34 tahun, sedangkan Rara 30 tahun dan mereka sama-sama tidak berencana untuk menikah. Entah karena memang tidak memiliki keinginan, tidak memiliki biaya atau hal lainnya. Karena watak mereka yang sama-sama keras kepala dan tidak mau diatur, bagi mereka rumah adalah perang.
Pernah satu kali Rara melamun dan memikirnya umurnya yang kian dewasa dan matang. Melihat pasangan-pasangan memiliki anak dan memiliki kehidupan yang layak sebagai manusia, bukan binatang seperti dirinya dan Bang Tata. Liar, tidak terurus, kumal, kotor. Sampai ada warga yang mengejeknya kalau Rara tidak akan pernah punya pasangan hidup sampai ajal menjemput. Namun, Rara bukanlah orang yang tinggal diam jika ada seseorang yang merendahkannya. Dengan pukulan tepat di mulutnya, warga yang mengejeknya itu tumbang.
Rara dan Bang Tata memiliki sifat buruk yang sama yaitu keras kepala, susah diatur dan tidak mau kalah. Sehingga jika terjadi peperangan di rumah mereka, konflik tidak akan pernah selesai dan akan memunculkan konflik baru jika pertemuan keduanya berlangsung.
***
Rara berjalan menuju pasar, masih dengan ringisan sakit di punggungnya. Dia lapar.
“Bu, roti yang seribuan beli dua.” Rara menyerahkan selembar dua ribuan, lalu duduk di samping trotoar jalan. Mobil, motor becak dan kendaraan lainnya hilir mudik melewati jalan besar di daerah Bandung itu. Bau bensin dan asap hitam mengepul menghempaskan diri ke hadapan wajah Rara.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Rara terbatuk beberapa kali dan menatap sinis ke arah mobil Jazz merah yang lewat di hadapannya dan memberinya asap hitam itu.
Orang kaya tidak tahu sopan santun! Umpatnya dalam hati.
Saat Rara hendak berdiri dari duduknya, dia melihat seorang nenek tua memanggilnya dari seberang jalan. Tapi Rara tak menghiraukannya dan pergi begitu saja.
“Nak, Nenek mau minta tolong.” Suara serak sang Nenek terdengar dipaksa untuk mengencangkan suara. Terdengar menyakitkan.
Rara menoleh, namun ragu untuk menolong bahkan tak peduli. Dia pergi lagi. Namun sekali lagi Nenek itu berjalan dan berteriak memanggil lagi. Namun kali ini Rara tidak menoleh dan pergi begitu saja dan pergi ke rumah makan Bu Dede untuk bekerja. Belasan tahun bekerja bersama Bu Dede walau gajinya lumayan membuat Rara terkadang bosan. Tapi, tak ada lagi pekerjaan yang mudah didapat untuk saat ini. Bagaimana lagi?
“Bu Dede, piring kotor banyak?” tanya Rara tiba-tiba padahal baru sampai di ambang pintu rumah makan.
“Buat kaget saja kamu, Ra! Piring kotor banyak di belakang. Rumah makan Ibu sedang banyak pengunjung. Alhamdulillah. Kamu sudah makan belum?” Tanya Bu Dede. Rara menggeleng.
“Sudah, sih. Tapi hanya roti dua.” Rara nyengir.
“Mau makan nasi nggak?” tawar Bu Dede.
“Tapi nanti gaji aku dikurangi aja gara-gara beli nasi bungkus. Kalau dikurangi, aku nggak mau, Bu Dede.” Rara mencoba bernegosiasi.
“Kali ini Ibu niatnya ngasih, nih. Jadi gaji kamu tidak akan berkurang.” Bu Dede menyiapkan bungkus nasi, kemudian diisi nasi dengan rendang dan perkedel.
“Wuih, rendang dan perkedel! Baik deh, Bu Dede!” Rara mencubit pipi Bu Dede, “Tapi dibungkus aja, Bu. Buat di rumah saja.” Rara melanjutkan.
Setelah itu Rara menuju dapur dan melihat setumpuk piring kotor menggunung.
***
Rara menyeka peluh di pelipisnya. Tiba-tiba Bu Dede datang membawa baki dengan tergopoh-gopoh.
“Ra, Nenek kamu nyariin.” Bu Dede memberitahu.
“Nenek aku sudah meninggal, Bu.” Jelas Rara singkat.
“Maksud Ibu, ada nenek-nenek nyariin kamu di depan rumah makan. Katanya penting. Bu Dede juga nggak tahu siapa.” Bu Dede mengerutkan keningnya.
Rara segera keluar karena bingung dan penasaran.
Ternyata Nenek itu adalah Nenek yang memanggilnya tadi di trotoar jalan raya.
“Maaf, ada perlu apa ya, Nek?” tanyaku berhati-hati.
“Boleh Nenek minta tolong?” tanya Nenek itu memelas.
Rara mengangguk.
“Nenek belum makan dua hari. Nenek hanya minta sesuap nasi saja untuk mengisi perut kosong ini. Hanya sesuap tidak apa.” Nenek itu terlihat lemas.
Tapi aku juga lapar dan seharian belum makan. Kalau mau minta ke Bu Dede juga tidak mungkin dan jika membelikannya untuk Nenek ini juga uangku akan berkurang. Gumam Rara dalam hati
“Maaf, Nek. Aku tidak punya uang. Mungkin Nenek bisa minta tolong pada orang yang lain.” Kata Rara ketus.
“Kalau kamu memang tidak punya uang, bisakah kamu ikut dengan Nenek sebentar? Hanya sebentar.” Nenek meraih tangan Rara dan mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang, agak jauh dari rumah makan Bu Dede.
“Nenek siapa?” tanya Rara mulai curiga.
“Terimakasih karena kamu mau berbincang sebentar dengan Nenek. Nenek ini hanya wanita tua yang sama sepertimu, sendiri. Kamu masih punya kakakmu, Bang Tata sedangkan Nenek benar-benar sendiri. Bagaimana kabarmu?” Tanya Nenek itu tersenyum.
Bagaimana dia tahu Bang Tata adalah Abangku? Kata Rara dalam hati.
Rara mengernyitkan dahi.
“Bagaimana Nenek tahu Bang Tata?” tanyaku kaget dan penasaran.
Nenek itu tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan, “Nenek ada satu pertanyaan.” Nenek itu membenarkan posisi duduknya.
“Apa jadinya jika api dibayar dengan api?” tanya Nenek tua itu tenang.
Rara makin bingung dan tidak mengerti dengan semua ini. Siapa dia? Darimana dia? Kenapa dia tahu tentang Bang Tata dan pertanyaan macam apa itu?
Rara hanya diam dan akhirnya menjawab, “Apinya akan semakin membesar.”
“Kau sudah tahu jawabannya, Ra. Sama halnya dengan amarah. Jika satu amarah itu dikeluarkan dan dihadapkan dengan amarah lagi, keadaan yang tadinya sudah buruk, kian memburuk. Sama seperti penyakit kanker ditambah lagi dengan penyakit kronis lainnya, jika tidak diobati kian hari kian memburuk. Sama halnya jika kita melempar batu kepada seseorang dengan amarah, maka orang yang kita lempar juga akan melempar dengan batu yang sama, bahkan mungkin lebih besar. Keburukan dibalas dengan keburukan akan berakhir menyedihkan, Rara. Kita ini wanita, diibaratkan seperti tisu yang sekali tergores, mudah sekali robek. Itulah wanita, sekali saja disakiti, bisa hancur tercarut-marut. Tapi kau tidak, Rara. Kau berbeda. Kau wanita yang kuat. Kuat mental, kuat hati, kuat fisik. Tapi, terkadang seorang wanita kuat juga harus belajar bagaimana menghormati saudaranya dan keluarganya. Hormatilah Abangmu meski perlakuannya sangat buruk terhadapmu. Balaslah api yang Abangmu semburkan dengan air kedamaian. Balaslah lemparan batu Abangmu yang penuh amarah dengan penerimaan yang penuh kedamaian. Balaslah rasa sakit yang Abangmu berikan dengan ketegaran. Dengan semua itu, kedamaian dan ketentraman hati pada persaudaraan yang kau jalani dengan Abangmu akan tercipta. Itu yang dinamakan sedekah kebaikan.” Jelas Nenek itu panjang lebar.
“Bagaimana Nenek tahu namaku dan juga Abang Tata? Darimana Nenek tahu bagaimana kehidupanku dengan Bang Tata?” Rara menahan tangis dan masih dalam kebingungan.
“Tidak apa kau tidak memberikan Nenek sesuap nasi karena kita sebenarnya sama-sama mengharapkan rasa peduli dan cinta kasih dari orang-orang yang bahkan melirik kita pun tidak. Karena Nenek tahu kau juga sulit dalam menjalani kehidupan. Tapi ingatlah selalu akan nasihat para pendahulu, Ra. Bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Jangan pernah hidup dengan banyak meminta. Jadilah orang yang dermawan hati, dermawan harta, dermawan jasa. Dermawan tapi jangan sampai besar kepala.” Nenek itu tersenyum.
“Tapi aku ini miskin, Nek!” Rara membentak Nenek itu.
“Jika kau tak sanggup berdermawan hati lewat hartamu, jadilah orang yang dermawan lewat jasamu. Dan kau sudah melakukannya, dengan cara kau membantu pekerjaan Bu Dede untuk mencuci piring kotor selama belasan tahun. Dan jika kau tak sanggup berdermawan hati lewat jasamu, kau bisa berdermawan hati lewat hatimu dengan rasa ikhlas dan sabar. Kita miskin, bukan berarti kita tidak bisa bersedekah. Kita miskin, bukan berarti kita tidak bisa memberi. Karena semakin banyak memberi, semakin banyak juga keberkahan yang akan menghampiri kita.” Nenek itu masih saja tersenyum hangat.
Rara menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Lama sekali.
Saat Rara sudah selesai menangis, Nenek itu sudah menghilang entah kemana. Mengapa Nenek itu pergi begitu saja tanpa pamit? Datang saja tidak tahu siapa, sekarang pergi tiba-tiba dan menghilang begitu saja.
Rara pun kembali ke rumah makan Bu Dede dengan mata yang sembab.
***
“Darimana saja, Ra?” tanya Bu Dede khawatir dan memperhatikan wajah Rara yang memerah dan matanya yang sembab.
“Bu Dede, tadi ada seorang Nenek yang mau minta sesuap nasi. Tapi, aku bilang nggak punya uang dan kalau minta ke Bu Dede nggak enak. Masak untuk jualan diberi kepada pengemis?” laporku.
“Lho, kenapa tidak bilang? Kalau Bu Dede tahu sudah Ibu kasih.” Kata Bu Dede dengan nada sedikit kecewa. “Ra, kamu tahu kenapa akhir-akhir ini warung makan Ibu banyak yang berkunjung?” tanya Bu Dede. Rara hanya menggeleng tidak tahu.
“Ibu belajar banyak dari suami Ibu, katanya meskipun hidup berkecukupan, keberkahan hidup ada ketika kita banyak memberi. Itu saja sih, kuncinya. Jadi, Ibu turuti saja kata-kata suami Ibu. Eh, alhamdulillah … rumah makannya makin ramai. Mungkin ini yang dimaksud berkah oleh suami Ibu.” Bu Dede tersenyum.
Rara merasa dirinya dilempar sekian jauhnya dari muka bumi. Hari itu Rara pun sadar dan mengerti tentang hakikat memberi.
“Bu, boleh pinjam ponselnya?” tanya Rara. Bu Dede menyerahkan ponsel merk Nokia jadulnya.
“Halo?”
“Bang Tata, Rara minta maaf atas semua perkataan kasar Rara terhadap Abang selama ini. Hiks ….” Rara menangis.
Bang Tata awalnya bingung, kemudian tersenyum.
Tinggalkan komentar