OPPM: Kisah Penuh Arti

OPPM: Kisah Penuh Arti

Berbagi pengalaman.

Saya masih ingat sekali, bulan Februari tepatnya 2 tahun yang lalu merupakan kehidupan awal baru saya sebagai seseorang yang diberi amanah oleh Pondok sebagai pemegang, penggerak, pengatur disiplin dan sunnah Pondok Modern Darussalam Gontor. Bagi orang yang pernah hidup dalam lingkup kehidupan Gontor akan tahu apa itu.
Ya, OPPM atau yang seringkali kita kenal dengan Organisasi Pelajar Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan organisasi atau wadah yang juga punya andil untuk mengatur jalannya acara di Darussalam. Terbagi atas 6 Departemen:
1. Departemen Istimewa atau Idariyah Khossoh, mereka adalah orang-orang penting teratas yang mengurusi semua departemen dan merupakan kaki tangan langsung dari pembimbing pusat.
2. Departemen Satu atau dalam bahasa arabnya Idariyah Ula, yang beranggotakan bagian-bagian khusus menangani disipliner santriwati-santriwati Darussalam dalam kehidupan berasrama.
3. Idariyah Tsani, bagian-bagian ini mengambil andil dalam urusan unit usaha di pondok seperti penjualan makanan atau pakaian-pakaian.
4. Idariyah Tsalisah, bagian-bagian ini berkecimpung dalam dunia seni.
5. Idariyah Robi’ah, bagian-bagian yang memiliki nalar berpikir secara intelektual.
6. Idariyah Khomisah, yang biasanya mengurusi masalah kebersihan dan kelestarian lingkungan di Darussalam.
Ada alasan khusus mengapa saya menulis artikel ini.
Itu semua karena saya pribadi punya kesan yang sangat mendalam terhadap organisasi ini, apalagi saya ditempatkan di departemen yang secara tidak langsung memiliki andil yang paling penting dalam membentuk karakter santriwati sendiri.

KEAMANAN PUSAT OPPM
Memang tidak akan pernah disangka seseorang yang pecicilan dan terbilang cuek seperti saya bisa menjadi salah satu bagian yang menurut orang-orang adalah bagian yang sangat menantang dan disegani. Bagaimana tidak, kamu harus bisa bertahan diluar ruangan tanpa menyunggingkan senyum sedikitpun walaupun ada kejadian lucu selucu apapun, kamu harus bisa menjaga wibawamu karena segala sesuatu yang ada pada dirimu, yang akan terjadi pada dirimu, segala pernak-pernik yang menempel di tubuhmu ataupun segala gerak-gerik dan pekerjaan yang kamu lakukan adalah PUSAT PERHATIAN bagi seluruh manusia di bumi Darussalam. Terdengar mengerikan memang, tapi itulah yang terjadi pada diri saya.
Sempat saya berfikir bagaimana hari-hari saya setelah hari dimana saya dipanggil bersama keenam teman yang awalnya sebatas teman seangkatan berubah menjadi sahabat seperjuangan dalam menegakkan disiplin. Apakah bisa saya menahan senyum dan ketawa? Apakah bisa saya cekatan dan tepat waktu dalam setiap keadaan dan setiap momen? Apakah bisa saya menjadi contoh yang baik bagi teman dan adik-adik kelas saya?
Banyak sekali pertanyaan bergelayutan yang tidak tahu harus dijawab dengan apa saat itu. Saya tidak bisa menitikkan air mata seperti keenam teman saya yang lainnya saat pemberian nasihat oleh Ustadz Suwarno, selaku wakil pengasuh. Saya hanya bisa menunduk dan mencatat apa-apa nasihat dari beliau. Ingin rasanya menangis, tapi entah mengapa tak keluar air mata yang ditunggu.
Setelah resmi menjadi Bagian Keamanan Pusat OPPM 2018, 2 minggu dari pelantikan itu saya masih belum bisa ‘bekerja’ dengan leluasa. Ingin sekali menghitung di tengah-tengan Jalan Nusantara, tapi masih terbersit rasa takut salah bicara atau ekspresi yang tidak sesuai dengan hitungan. Ingin sekali daur acara dan menghitung yang berhalangan di rayon untuk bersih-bersih rayon menggunakan sepeda Phoenix andalan, tapi masih takut juga jika mungkin saja jatuh atau tersangkut dari sepeda.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengan hitungan khas Bagian Keamanan, “Al waroiyyah tasarro’na! Ahsubu lakunna liqooyati-l-khomsah. Wahid! Itsnaani! Tsalaatsa! Arba’a! Man fi-th-thoriq, imsyii sarii’an! Wal akhir, khomsa!” Dengan suara yang lantang lagi menggelegar. Tanpa senyum. Tanpa ampun. Tanpa basa-basi. Hahahahaha (ketawa jahat).
Sebenarnya, ketika ditanya apakah sulit menjadi orang yang selalu memampang wajah tak bersahabat selama satu tahun, tak pernah tersenyum di hadapan santriwati, matanya tajam akan sesuatu yang berbau pelanggaran dan tanggap dalam menumpas sebuah kejahatan kecil maupun besar? Jawabannya adalah SULIT. Tapi …
Dari kesulitan dan wibawa (haibah) yang benar-benar harus saya jaga itulah, banyak sekali pengalaman, suka dan duka yang membekas sangat dalam hingga saat ini menimbulkan rindu yang teramat dalam. Apalagi ketika mendengar lagu-lagu iringan ‘lambaian perpisahan’ nuzul.
Rasa memiliki terhadap bagian saya waktu itu sangat terasa ketika 1 bulan menjelang pergantian pengurus. Dokumentasi berupa softfile dan hardfile harus segera jadi, Laporan Pertanggungjawaban sebanyak 42 halaman harus dikejar juga, daur acara sana-sini juga harus dilaksanakan, bangun pagi dan membangunkan santriwati tetap dijalankan, banyaknya pelanggar yang ingin mengerjakan hukuman tetap harus dilayani, terkadang lelah seringkali datang.
Apalagi posisi saya sebagai Ketua II dan Sekretaris I yang terkadang membuat saya bingung sendiri. Kerapihan administrasi bagian yang ada di komputer ataupun pembukuan berada di tangan saya dan partner kerja saya, Aisyah Sabrina selaku sekretaris II. Harus bisa cerewet masalah pembukuan. Disisi lain, ketika si Ketua I, Amalia Nur Afasa sedang sibuk dengan kepanitiaannya atau sedang sakit, tak ayal saya yang harus ambil posisi.
Ketika hari pergantian pengurus tiba, akhirnya sebuah senyum bisa saya dan keenam sahabat saya tunjukkan di atas panggung megah saat itu. Itu pertama kalinya kami senyum bahagia nan tulus di hadapan seantero Darussalam tanpa ada rasa ragu namun haru. Alhamdulillah, kami telah menjalankan dan melewati waktu-waktu berharga sebagai Bagian Keamanan Pusat. Amanah pun di estafetkan kepada Pejuang Penegak Disiplin setelah kami, SA 2019:
Iffah Nur Saidah
Berliana Agung Pangestuti
Nur Lailatusy’ Syifa
Salma Maulidatun Nafi’ah
Nurazizah
Alvi Wahyuningtiya
Rosyidah Aprilia

Jujur, banyak sekali yang dirindukan dari keseharian selama menjadi Bagian Keamanan Pusat:
1. Daur malam NWW
2. Naik sepeda ontel Phoenix
3. Membangunkan santriwati ketika hendak shalat shubuh
4. Memberi hukuman bagi yang melanggar
5. Dan masih banyak lagi

Terimakasih, Gontor … untuk pelajaran kehidupan berarti yang kau beri.DSC_0407

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai