HP

Punya seorang kakak dan adik merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Terutama jika kau adalah anak perempuan satu-satunya sedangkan kakak dan adikmu berjenis kelamin laki-laki. Terkadang kebiasaanmu yang seharusnya ‘keperempuanan’ berubah menjadi hal kesukaan seorang laki-laki remaja. Contohnya, suka nonton pertandingan sepak bola, nonton pertandingan Moto GP ataupun Formula 1, baju pendek model denim, bermain playstation ataupun point blank dan minum kopi ketika pagi hari. Walau kadang hal-hal itu dianggap maklum oleh sebagian wanita remaja yang sudah terkena virus ‘tomboy’. Malah, ada sebagian remaja wanita yang menganggap menjadi tomboy adalah hal yang keren dan fashionable. Padahal, banyak yang bilang wanita lebih anggun memakai rok atau gamis dan berhijab.
Tak dipungkiri, itu semua pernah aku alami. Ketika umurku masih 14 tahun, aku suka nonton bola dan klub favoritku adalah Manchester United dan itupun karena kakakku adalah penggemar berat dari klub Setan Iblis itu sendiri. Aku juga suka nonton Moto GP dan Valentino Rossi adalah pembalap favoritku. Tetap saja aku hanya ikut-ikutan pamanku yang hobi sekali menonton pertandingan balap motor itu. Jadi intinya, sebagai wanita di masa remaja, aku lebih banyak mengalah karena suaraku sebagai seorang remaja wanita ‘kalah’ dengan suara kakak dan adikku.
Namun, semakin bertambahnya usia, sifat dan perilaku pun juga berubah. Ketika aku memasuki dunia perkuliahan dan kakakku sudah bekerja menjadi pegawai Bea Cukai di wilayah Nusa Tenggara Timur sedangkan adikku baru saja memasuki dunia SMA, semua hal terasa berbeda diantara kami. Terutama dalam hal mengalah dan kasih sayang. Kakakku lebih bisa menghargai dan menyayangi meski masih dalam ‘mode cuek’-nya. Dan adikku lebih bisa memahami kakak laki-lakinya dan kakak perempuannya, yaitu aku.
Tapi, ada satu hal yang ‘kurang’ jika kau adalah the real contemporary teenager. Kurang karena kau belum merasa seorang remaja yang ‘benar-benar remaja’ jika kau belum mendapatkan, merasakan dan memilikinya.
P-A-C-A-R-A-N.
PACARAN.
Ya, benar sekali. Dari kecil, tidak juga, sih.
Ayahku terbilang orang yang sangat protektif terhadap sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal seperti ini. Apalagi hal ini menyangkut agama dan masa depan. Kepedulian inilah yang menjadikan beliau sangat anti terhadap PACARAN DALAM JENIS APAPUN. Beliau bilang, bahwa pacaran merusak segala aspek di kehidupanmu. Dirimu dirusak, moralmu juga dirusak, rasa spiritualis yang ada pada dirimu juga dirusak, masa depanmu juga bisa saja dirusak, bahkan jika sudah melampaui batas, nama baik keluarga saja bisa dirusak. Hanya dengan pacaran.
Jadi, selama ini Ayah menjagaku, kakakku dan adikku dengan sangat baik dan berhati-hati dengan memberi pemahaman sebanyak-banyaknya yang ia tahu. Terutama di umur kami yang sekarang terbilang ‘sedang berada di puncak’ seorang remaja menuju dewasa. Meski kadang menggelikan membahas tentang pernikahan ketika aku masih berumur 19 tahun dan kakakku berumur 23 tahun sedangkan adikku msih berumur 15 tahun. Entahlah, topik tentang pernikahan menurutku terlalu berat walau 5 tahun lagi dari hari ini aku akan menjalaninya. Aku hanya merasa masih seperti anak kecil dan belum benar-benar siap sepenuhnya. Ah, lupakan!
Tapi, ada kejanggalan yang terjadi ketika kakakku pulang berlibur mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai pegawai Bea Cukai.
“Kak, boleh pinjam handphone-nya nggak?” tanyaku.
“Handphone¬-mu kan ada.” Kata kakakku sambil makan.
“Rusak.” Jelasku pendek saja.
“Mau apa memangnya?” Kakakku mengerutkan keningnya.
“Mau buka instagram.” Aku menyunggingkan senyumku.
Akhirnya kakakku mengizinkannya.
Aku asyik saja dengan instagramku. Baru beberapa menit aku asyik dengan instagramku,ada pesan masuk.
“Kak, ada pesan masuk!” Panggilku pada kakakku.
Tak ada jawaban. Sepertinya kakakku sedang keluar. Aku memutuskan untuk membukanya karena aku penasaran dengan SMS itu.

Bro, Hilwa Putria udah dijemput belum? Kasian tuh, sendirian. Jangan ditinggal sendiri, nanti diambil sama orang lain.

Apa ya, maksudnya? Siapa itu Hilwa Putria? Kenapa harus dijemput oleh kakakku segala? Apa kakak punya pacar sampai harus dijemput begitu? Kalau Ayah tahu, bisa gawat urusannya.
5 menit kemudian, kakak datang membawa 2 bungkus nasi padang. Aku tak bilang bahwa kakakku mendapatkan pesan masuk. Aku hanya diam saja dan memutuskan untuk menyelesaikan kegiatanku ‘memelototi’ instagramku. Kuberikan kembali handphone yang kupinjam kepada pemilik aslinya, kakakku.
Setelah menerima handphone¬-nya, kakakku malah cekikikan sendiri. Apa gara-gara pesan masuk dari seseorang itu, ya? Setelah itu, kakakku langsung mengambil kunci motor dan berencana pergi lagi entah kemana. Aku mulai curiga. Apa mau menjemput seseorang berinisial HP itu, ya?
Aku memutuskan untuk bertanya, “Kak, mau kemana?”
“Mau keluar sebentar. Jaga rumah, ya?” Kakakku langsung menyalakan motornya dan pergi.
Tuh, kan! Pasti mau jemput Hilwa Putria. Siapa sih, dia? Beneran pacar? Aku mulai gundah dan resah. Wajar saja aku resah. Toh, kalau benar-benar seseorang bernama Hilwa Putria itu wanita dan ternyata pacarnya, wah, harus aku laporkan pada Ayahku supaya kakakku tidak rusak segala apapun. Lebih parah lagi kalau Hilwa Putria itu wanita dan bukan pacarnya. Wah, bisa mati kakakku itu! Aku harus selidiki masalah ini. Pokoknya kalau-kalau dia wanita, mau itu pacarnya atau bukan tetap tidak boleh melanggar perjanjian dengan Ayah dan Ibu.

Keesokan harinya, kakakku sedang mandi. Handphone-nya ia letakkan di atas meja makan. Biasanya, kalau seorang pria menyukai seorang wanita, dia akan menyimpan beberapa foto wanita di handphone-nya. Karena masih sangat penasaran, aku pun mengambilnya dan melihat galeri foto di handphone¬ kakakku. Benar saja, ada satu foto wanita memakai kerudung putih tersenyum dan tangannya membentuk huruf V. Ternyata kakakku benar-benar pacaran!
Lalu kulihat pesan-pesan masuknya beserta balasan dari kakakku.

Rifky
Apa kabar Hilwa Putria?

Anda
Katanya masih sakit. Besok deh, gua jemput dia.

Rifky
Wah, parah. Lama-lama makin ngangenin aja dia. Kapan mau diambil?

Anda
Nanti aja, lah. Baru juga jalan masa mau langsung ambil. Biar diuji dulu kesabarannya.

Wah, gawat! Bencana besar! Harus kasih tau Ayah kalau sudah seperti ini.

Malamnya, Ayah pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Setelah shalat maghrib bersama dan mengaji bersama, kami dibebaskan untuk melakukan aktivitas masing-masing. Kakakku lebih memilih untuk menonton tv bersama adikku. Katanya ada pertandingan Manchester United melawan rival sekota, Manchester City.
Aku mendekati Ayahku yang sedang membaca buku di ruang tamu.
“Yah …,” kataku duduk di sampingnya.
“Mmmm …,” Ayahku masih konsen pada bukunya.
“Khanza mau bilang sesuatu yang penting banget. Tapi Ayah jangan marah, jangan kaget dan jangan bilang siapapun, ya?” Kataku berkata manja. Ayahku menoleh, mulai tertarik dengan topik yang akan dibicarakan.
“Yah, pacaran itu kan nggak boleh kalau kata Ayah. Kalau misalkan salah satu anak Ayah ada yang pacaran bagaimana?” tanyaku menata kata agar tak salah penyampaian.
“Diusir mungkin. Atau Ayah tidak anggap lagi sebagai anak, mungkin. Kamu pacaran, Khanza?” Ayah bertanya.
“Tidak!” Jawabku tegas. “Bukan aku, tapi kakak.” Bisikku di telinga Ayahku.
“Kakak? Serius?” Ayah memastikan.
Aku mengangguk, “Tapi jangan bilangin kakak, Yah. Kalau mau bilang, Ayah bilang saja tau sendiri.” Kataku memohon.
“Kak Zaki!” Panggil Ayah pada kakakku.
Aduh! Bagaimana ini?
Ayah menyuruh kak Zaki duduk dan mulai bertanya perihal yang aku laporkan.
Kakakku awalnya kaget dan menangkis semua laporan yang ia anggap hanya gosip dan isu belaka. Tapi, aku coba untuk meyakinkan Ayahku bahwa kakakku pacaran dengan seorang wanita berhijab dengan bukti-bukti yang aku temukan di ponselnya.
“Lalu, kenapa ada foto wanita muslimah di ponsel kakak? Itu namanya pacar.” Aku protes.
“Ya ampun! Itu fotonya Sarah, sepupu kita di Denmark, anaknya tante Defa. Masa lupa? Parah kamu, dek!” kak Zaki lebih kaget lagi. Aku mencoba mengingatnya lagi dan setelah aku melihat lebih jelas lagi foto itu, ternyata itu Sarah, anaknya tante Defa. Pantas saja aku tak mengenali wajahnya. Sudah 12 tahun lebih aku tidak bertemu dengannya. Buat pangling saja!
“Lalu kenapa kakak menyimpan foto Sarah?” aku masih tak mau kalah.
“Oh, waktu itu Sarah telpon via skype. Katanya dia minta kirimin foto dia ke neneknya. Soalnya neneknya kangen dan ponsel tante Defa rusak. Jadi, dia minta tolong kakak.” Jawab kakakku santai.
“Terus, siapa itu Hilwa Putria?” Aku masih saja tak mau kalah dan masih sangat penasaran.
“Oh, jadi kamu itu mengira kakak pacaran gar-gaa itu. Itu nama laptop kakak. Mereknya kan HP, yaaa … kakak main-main aja sama teman-teman kakak. HP disingkat jadi Hilwa Putria. Laptop teman kakak mereknya Asus diplesetin jadi Anggia Susanti. Ada juga yang punya laptop mereknya Lenovo diplesetin jadi Lena Novio. Kebetulan laptop kakak rusak. Sekarang lagi di ‘bengkel’-nya.’” Jelas kakakku.
Aduh, aku jadi malu. Gumamku dalam hati.
“Jadi kakak tidak pacaran, kan?” Ayah bertanya untuk memperjelas. Kakakku menggeleng.
Ayah menoleh padaku.
“Sudah jelas?” Ayah tersenyum. Aku mengangguk malu.
“Dengar, tidak ada hubungan yang halal sebelum pernikahan. Kalau perlu, jika kalian memang benar-benar sudah mampu menjadi calon imam yang bisa membawa keluarga kalian ke surga, atau seorang istri yang bisa mengurus suami dan rumah tangganya dengan baik, Ayah nikahkan kalian dengan orang yang benar sekarang juga. Itu kalau kalian mampu. Tapi, Ayah yakin kalian belum mampu. Hakikat sebuah pernikahan itu mahal dan tidak semudah yang dibayangkan. Kalau memang masih merasa kurang akan ilmu agama, ilmu pengetahuan, merasa masih belum sempurna untuk memiliki pasangan, tidak usahlah melakukan hal yang bernama pacaran itu. Akan sulit dunia dan akhiratmu.
Lebih baik banyak-banyak melakukan perbaikan diri. Toh, sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu berbenah dan bermuhasabah.” Nasihat Ayah.

“Suka dan disukai, cinta dan mencintai bukanlah pilihan karena itu fitrah Allah yang diberikan kepada kita. Karena manusia memiliki hati untuk saling mencintai dan menyayangi. Tapi mengaplikasikan cinta itu sendiri yang jadi sebuah pilihan dan pilihan itu ada pada kita. Mau mengaplikasikannya atau tidak. Kalian yang bisa menentukannya. Ayah hanya memberi tahu apa yang harus diberitahu.”

Ayah pun melanjutkan membaca bukunya dan kakakku pun pergi sambil tertawa lepas dan puas.
Uh, pikiran negatif ini membuatku malu saja!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai