Bicaralah!
Bicaralah!
Katakan sesuatu!
Aku hanya menatapnya semu.
Gamang.
Bisa kau bayangkan betapa bahagianya kau jika bisa menjadi seorang pemuda sukses harapan orang tua juga keluargamu? Bisa kau bayangkan? Tapi, membayangkan saja tidak pernah cukup. Lalu, bisakah kau mewujudkannya? Waktu yang akan menjawabnya. Takdir yang akan menggariskan semuanya.
Pernahkah kau bertemu orang yang tidak banyak celoteh atau komentar? Jika pernah, maka itu aku. Pernahkah kau bertemu seorang gadis yang tak pernah sekalipun menggosipi temanmu yang sedang pacaran atau tetanggamu yang selalu membuat kegaduhan karena bertengkar dengan adiknya? Jika pernah, mungkin itu juga aku. Pernahkah kau bertemu orang yang menanggapi semua omongan orang hanya dengan isyarat bibir? Jika dia senang, dia hanya tersenyum. Jika sedih, air mata yang menjawabnya. Jika pernah, maka itu pun pasti aku.
Aku lebih suka dan lebih banyak melihat apa yang orang sekitarku lakukan atau mendengarkan mereka berpidato ataupun mengobrol dibanding ikut berbicara dengan mereka-mereka. Dan ketika mereka membutuhkan jawaban dariku, aku cukup tersenyum jika aku menyukainya dan cukup menganggukkan kepala atau isyarat apapun itu yang bisa membuat mereka mengerti dan tahu dengan jawabanku atas pertanyaan mereka.
Kau tahu mengapa aku begitu?
Kau tahu kenapa aku melakukan itu semua?
Bukan. Bukan karena aku orang yang angkuh atau pun sombong dan malas bicara. Bukan juga aku sedang sariawan atau sedang tidak mood.
Itu semua karena aku bisu.
Ya, bisu.
Jika kau bertanya kepadaku bagaimana keadaanku? Aku akan bilang bahwa aku sangat baik-baik saja dengan keadaanku. Jika kau mendekatiku karena simpati atau belas kasih? Sungguh, aku tidak butuh belas kasih. Aku tidak merasa bahwa aku cacat atau merasa kurang sempurna. Karena aku yakin, semua yang diberikan Tuhan padaku adalah anugerah dan kebesaran-Nya atas penciptaan diriku. Kata Bapakku, rasa syukur tidak harus ditunjukkan ketika kita bersembahyang saja. Bahkan, setiap detik yang kita lewati, setiap udara yang kita hirup, setiap hamparan keindahan ciptaan-Nya yang selalu terbentang dan kita lihat setiap harinya adalah rasa sayang-Nya yang tak terbatas selama apapun kita hidup. Jadi, bersyukurlah atas segala kondisi terbaikmu atau terburuk sekalipun.
Ah, maafkanlah aku ini yang terlalu sombong dengan sikapku ini.
Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? Satu pertanyaan saja.
Aku disukai semua orang karena mereka bilang aku menyenangkan dan menenangkan mereka-mereka yang lelah dan penat atas sibuknya jalan raya dan sibuknya kehidupan di dunia mereka masing-masing. Aku juga banyak dinanti oleh para pencari kedamaian, terutama para penanti kedamaian di ujung-ujung pantai sambil berjalan memikirkan banyak hal. Sungguh, aku akan selalu berada di ufuk Barat ketika kau berniat menemuiku dan mengucapkan kata ‘halo’ padaku. Aku akan bersenang hati.
Pasti kau bisa menebak namaku. Aku yakin.
Jika kau benar-benar tidak tahu siapa namaku dan kau ingin menyerah, aku tak akan memaksamu. Dengan senang hati aku akan beritahu kau namaku yang sangat sederhana.
Halo, namaku Senja.
Jika kau bertanya nama lengkapku, baiklah akan kujawab juga.
Hai, nama lengkapku Senja.
Jika kau bertanya lagi bagaimana orang-orang biasa memanggilku? Maka, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sepenuh hati.
Ya, panggil aku Senja.
Jika kau bertanya lagi kapan aku lahir? Aku akan tetap menjawab pertanyaanmu itu dengan 4 kata.
Aku lahir ketika senja.
Apakah ada pertanyaan lagi?
Oh, baiklah jika kau tak ingin bertanya lagi.
Bagi Bapak, waktu pagi selalu spesial. Burung berkicauan, embun berjatuhan, udara sejuk pun menghampiri. Bahkan, orang-orang memulai harinya di waktu matahari terbit. Tak pelak memang pagi begitu istimewa. Karena pagi selalu istimewa menurutnya, beliau selalu bangun paling pagi dibandingkan aku. Sosoknya yang sangat rendah hati membuatku selalu bangga memiliki sosok pemimpin keluarga sepertinya. Bahkan, banyak yang tidak tahu bahwa Bapakku adalah seseorang yang sangat peduli dengan agamanya dan sangat sayang pada keluarganya. Hal itu terbukti dengan ajarannya yang setiap selesai shalat maghrib, memberikanku tafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satu surat yang sering beliau bahas adalah surat Yusuf.
Yang aku pahami dari surat Yusuf dari ayat satu sampai seratus adalah bahwa hidup adalah sebuah proses dimana kau harus memilih untuk menjadi buah atau tetap utuh menjadi biji. Ini terlihat bagaimana Yusuf mengalami banyak sekali kesulitan semasa mudanya. Mulai dari dibuang oleh saudara-saudaranya karena rasa benci, dipenjara karena difitnah dan berbagai kejadian-kejadian lainnya yang menimpanya. Namun di ayat 100 dari surat Yusuf mengajarkan kita bahwa setinggi apapun jabatanmu nanti, seluas apapun ilmumu, sebanyak apapun hartamu. Tetaplah merendah di hadapan orangtuamu dan tempatkanlah mereka di atas singgasana kekuasaanmu. Karena semua yang kau dapat di dunia, tak lepas dari peran orang tua dan Allah. Aku juga ingin memuliakan orang tuaku dengan kesuksesanku.
Kalau kau kira aku miskin, kau salah. Aku dan Bapakku adalah orang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Oh, maafkan aku lagi karena terlalu lama berbicara.
“Senja ….” tatapan lembutnya membangunkanku.
Aku membuka mataku dengan rasa kantuk yang masih terasa berat.
“Subuh, shalat dulu.” Bapakku lalu menarikku perlahan untuk bangun.
Aku pun langsung mengambil air wudhu dan shalat sedangkan Bapak larut dalam nikmatnya dzikir pagi yang selalu ia lakukan setiap paginya. Teduh sekali wajahnya. Damai sekali parasnya.
Pukul 7 pagi.
“Bapak pergi kerja dulu. Kalau kamu mau jajan atau mau jalan-jalan keluar, Bapak sudah titipkan uang pada Bi Lasri. Bapak titipka tiga ratus ribu. Ambil saja padanya.” Bapakku mengeluarkan motornya dari garasi rumah.
Aku hanya tersenyum.
“Bapak pergi dulu, Senja. Hati-hati di rumah. Assalamu’alaikum!” Bapak pun berangkat.
Sekarang, aku sendirian di rumah.Tapi, kesendirianku akan terbayarkan dengan banyaknya pekerjaan rumah yang harus kukerjakan. Cuci piring, menyetrika bajuku dan Bapakku, membereskan buku-buku dan masih banyak lagi. Jangan salah. Di rumahku ada 2 rak buku berisi buku-buku miliki Bapakku dan aku. Bapak memang seorang penulis walau tak banyak yang tahu. Karenanya, aku sangat suka membaca dan mengetahui segala macam hal yang belum aku ketahui. Karena Bapak bilang, membaca itu sesuatu yang menyenangkan. Dan itu benar.
Setelah berkutat dengan setrika selama satu jam, aku duduk sebentar untuk menghilangkan letih. Baru saja aku ingat, aku ingin masak mie goreng dan membeli es krim jagung. Jarang-jarang aku bisa pergi belanja. Biasanya, Bapak overprotective kalau aku pergi sendirian karena aku adalah anak wanita satu-satunya. Mungkin, mood Bapak sedang baik sampai rela mengizinkanku jalan-jalan dan membeli beberapa makanan untuk kusantap sendiri. Baiknya Bapakku yang satu itu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu berwarna coklat tua yang agak usang berderit terbuka.
Aku melambaikan tangan dan tersenyum.
“Kenapa?” Tanya Bude Lasri agak ketus.
Aku menggesekkan jempol dengan telunjuk tangan kananku.
“Oh, duit? Tunggu bentar.” Bi Lasri masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia pun kembali dengan membawa uang yang Bapak titipkan padanya untukku.
“Ini, Bapak lu cuma ngasih dua ratus ribu doang.” Katanya sambil memberiku selebaran merah bergambar Bung Karno dan Bung Hatta itu.
Aku mengerutkan keningku. Bapak bilang tiga ratus ribu. Kenapa Bi Lasri hanya memberiku dua ratus ribu? Apa dia lupa? Aku pun mengepalkan tanganku dan mengacungkan tiga jariku sebagai isyarat angka tiga.
“Yaelah, tiap hari Bapak lu nitipin lu ke gua dan gua gak pernah dikasih bonus! Jadi orang bisa baikkan dikit kagak, sih?” Bu Lasri sedikit marah dengan logat betawinya yang khas.
Aku agak bingung harus menanggapinya bagaimana. Jadi kupikir, tak apalah. Toh, dua ratus ribu sudah lebih dari cukup. Anggap saja seratus ribu itu pemberian Bapakku pada Bi Lasri. Aku mengacungkan jempolku tanda ‘oke’. Aku pun tersenyum dan segera pergi.
Asal kau tahu, Bi Lasri itu tetanggaku yang paling baik. Tak ada orang sebaik Bi Lasri. Dia rela menjagaku selama Bapak bekerja, meski bisa dibilang, penjagaan yang semu. Hehehehe. Tapi setidaknya, ada orang yang tahu bahwa aku sendirian dan apabila terjadi sesuatu padaku, ada orang yang tahu tentang keadaanku.
Aku sampai di sebuah supermarket. Tapi entah mengapa di jalan raya depan supermarket tersebut terlihat seperti ada kerumunan. Ah, mungkin ada kecelakaan kecil atau apa. Aku memutuskan untuk pergi saja. Bukan maksudku untuk tidak peduli. Tapi, sudah banyak sekali orang yang berkerumun disana.
Handphone-ku bergetar. Tanda ada panggilan masuk.
“Halo?”
……..
“Halo? Apa ini dengan Senja?”
……
Aku bergeming. Ingin sekali kujawab ‘iya’. Tapi, kau tahu aku tak bisa.
“Halo? Apakah anda bisa menjawab saya? Apa anda putri dari Bapak Ulfi Setiawan?”
Kenapa dengan Bapak? Ada apa?
Tiba-tiba telpon mati, panggilan diputuskan dari orang yang tak dikenal. Perasaanku mulai khawatir. Entah itu resah atau bingung, aku juga tak tahu. Bapak kenapa? Apa musibah menimpanya? Semoga itu tidak terjadi. Lalu kenapa orang tak dikenal meneleponku? Aku mencoba menghapus pikiran negatif itu jauh-jauh. Mungkin saja itu kolega Bapakku yang tak sengaja meneleponku karena urusan mendadak di kantor. Semoga saja begitu.
Setelah berbelanja segala yang aku butuhkan untuk memasak, aku bergegas pulang. Meski aku terlihat tenang, tapi hatiku tidak. Aku masih khawatir pada Bapak walau aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk melepas pikiran negatif itu.
Sampai dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Hmmm … Bapak belum pulang juga. Tapi, memang ini masih dalam jam kerja kantornya.
Aku pun mulai memasak.
Tok! Tok! Tok!
Ada tamu.
“Assalamu’alaikum. Apa benar ini dengan kediaman Bapak Ulfi Setiawan?” dua orang polisi datang ke rumahku. Ada apa?
Aku hanya mengangguk, senyumku mulai pudar.
“Maaf, apakah anda anaknya yang bernama Senja?” tanya polisi bernama Ridwan itu. Kubaca papan namanya.
Aku mengangguk mantap dan keningku berkerut. Aku bingung. Apa yang terjadi? Aku mulai menitikkan air mata.
“Maaf, tadi siang Bapakmu menabrak seorang pria di depan supermarket. Kecelakaan itu menyebabkan kematian pria yang ditabrak Bapakmu. Harap ikuti kami menuju kepolisian. Bapakmu yang memintanya. Kami sudah berusaha untuk menghubungimu, namun kau tak kunjung mengangkat teleponnya.”
Kujawab dengan bahasa isyarat bahwa aku tak bisa berbicara.
Aku mulai mengerti dan mengangguk. Aku baru paham, Bapak menjadi tersangka kecelakaan dan sekarang sedang diproses untuk persidangan. Syukurlah Bapak tidak sakit apapun atau yang lebih buruk daripada itu. Aku pun berangkat bersama kedua polisi itu menuju kantor polisi. Sepanjang perjalanan, aku merasa menyesal tak ikut kerumunan orang ketika aku pergi ke supermarket. Andai saja aku bisa lebih peduli dengan apapun yang aku lihat, aku tak akan merasa menyesal. Andai saja saat itu aku memiliki sedikit simpati terhadap kecelakaan itu meskipun telah banyak orang yang datang, Bapak setidaknya dapat merasa tenang dengan adanya hadirku saat itu.
Maafkan Senja, Pak.
Lima belas menit kemudian, kami sampai di kantor kepolisian. Aku langsung berlari.
Mana Bapak?
Akhirnya Pak polisi mengantarkanku ke ruang kunjungan. Akhirnya aku bisa bertemu Bapak. Raut muka Bapak terlihat kusut dan sedih. Aku mungkin bisa mengira bahwa Bapak merasa menyesal atas kejadian tak terduga itu. Siapa yang bisa mencegah takdir? Kita sama-sama manusia.
Sekarang Bapak ada di hadapanku.
“Senja ….” Bapak berkata lirih.
Aku hanya menatapnya diam.
“Senja ….” Bapak memanggil namaku sekali lagi.
Aku mengerti perasaan Bapak saat itu. Dari ucapannya, dari tatapannya padaku. Aku tahu Bapak merasa sangat sedih dan menyesal atas kejadian hari ini. Tak pernah terbayangkan bahwa seorang panutanku akan mengalami hal yang tak pernah diduga, bahkan untuk orang sebaik dirinya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil menangis. Ingin sekali aku terisak seperti anak-anak lainnya, menenangkanmu dengan ucapan dari mulut dan hatiku langsung. Maafkan aku yang seperti ini. Aku berdiri dan memeluk Bapak erat.
Hari itu pertama kalinya aku melihat Bapak menangis di pelukanku. Selama ini, selama hidupku, tak pernah kulihat Bapakku menangis seperti itu. Mungkin, dari dulu kau memang ingin menangis karena mungkin terlalu lelah dengan hidup atau mungkin terlalu kecewa dengan Mama yang pergi tak kembali dan tak berjejak dan mungkin juga kau terlalu lemah untuk menyimpan segala rupa kesedihan yang kau kubur sangat jauh di dalam hatimu.
Tak apa, Pak. Menangislah! Menangislah! Aku tak akan memaksamu untuk berhenti menangis. Mungkin aku tak tahu seberapa dalam rasa sakitmu, aku juga tak tahu seberapa kuat dirimu menyimpan beban diri dan beban hati. Sekali lagi maaf.
“Senja, maafkan Bapak.” Bapak masih menangis. Aku hanya bisa menggeleng mengisyaratkan bahwa aku tak apa.
“Setelah hari ini, tolong jadilah anak yang baik dan ingatlah tiga hal ini. Jujur, bertanggungjawab dan perencanaan. Jujurlah pada setiap perkataanmu, maka kau akan mendapati orang-orang yang baik disekitarmu. Banyak sekali kebohongan dunia yang terlihat, namun lebih banyak lagi kebohongan dunia yang kasat mata. Berjanjilah pada Bapak kau akan jujur dalam segala aspek kehidupan. Lalu, bertanggungjawablah terhadap segala hal ataupun amanat yang orang percayakan padamu. Sebuah kepercayaan memiliki harga yang mahal. Jangan pernah sekali-kali kau bermain dengan sebuah tanggungjawab karena kau akan ditanyai tanggungjawab itu di dua tempat, dunia dan akhirat. Dan yang terakhir, rencanakan segala sesuatu yang kau butuhkan atau yang ingin kau lakukan dari sekarang. Hidup butuh perencanaan. Bahkan, yang sudah direncanakan matang-matang saja bisa tertinggal, apalagi yang tidak direncanakan, bisa mati dan buta.” Bapak menguatkanku.
“Bapak memang tidak akan kemana-mana. Tapi mungkin, dalam umurmu yang sekarang beranjak sembilan belas tahun, kau sudah tahu betul apa yang akan terjadi setelah ini. Jika kau punya masalah atau cerita menarik ketika kau mulai kuliah nanti, datanglah ke tempat ini. Bapak selalu siap untuk mendengarkanmu. Akan ku titipkan kau pada Bi Lasri. Kuatlah, Senja!” Bapak memaksakan senyumnya.
Bahkan, terkadang senja dapat menelan kebahagiaan. Mama yang pergi tak berjejak dan tak beralasan ketika senja. Adikku yang meninggal karena diculik ketika senja hari dan sekarang Bapak yang mengalami kejadian pahit ketika senja.
Namun, hidup harus berlanjut meski dalam bentuk apapun. Bahkan, dengan kebisuan Senja, senja selalu hadir menghampiri di ufuk Barat sana.
Terimakasih senja, kau beri aku rahasia hidup.
Tinggalkan komentar