Aku ingin ceritakan … Bukan kisah sedih di kemudian hari atau di hari-hari kemarin. Mungkin kau sudah bosan mendengar kisahku yang hanya penuh dengan keluh dan rusuh sedih. Maafkan aku. Hari ini aku kembali setelah sekian lama terdiam sepi bersama jejakku menapak pagi.
Beberapa hari ke belakang, aku banyak merenung dan mencoba mengamati gerak-gerikku sendiri.
Sudahkah aku benar? Sudahkah aku berusaha? Sudahkah aku sesuai dengan perkataanku pada kawan-kawanku selama ini? Apa aku hanya berjalan di tempat penuh dengan genangan air.?Berjalan diatas genangan air itu, sulit rasanya kawan. Itu yang aku rasakan.
Aku bertanya dan berbincang ringan dengan temanku perihal keinginan kami yang ingin cepat lulus dan keluar dari sini. Sungguh, sudah terlalu banyak kemungkaran yang kami saksikan. Kemungkaran itu kerapkali hanya bisa membuat kita membisu. Hanya ada dua alasan mengapa bisu adalah jawaban. Pertama, karena terlalu lelah dan bosan untuk mengingatkan, bahkan peringatan itu dijawab dengan kebisuan pula. Kedua, terlalu banyak yang terjadi, sehingga terkadang kami bingun bagaimana cara mengajak, tapi tak menggurui. Bahkan, pada kakak sendiri.
Aku selalu diajarkan oleh Ayah agar tak diam pada kemungkaran. Aku sudah terlatih untuk bisa menjadi motor bagi siapapun yang ada di belakangku. Meskipun, kadang aku menyesali bahwa aku harus menjadi motor, padahal seringkali keinginanku untuk bebas dari belenggu menggunung.
Tiga hari ini, aku banyak berjalan seorang diri di pagi hari. Menikmati udara dingin nan sejuk. Menikmati cahaya lembut pagi yang tak melukai mataku. Sinarnya begitu hangat. Pergi ke suatu tempat dimana aku bisa duduk diam, mengerjakan tugas-tugasku yang menyulitkanku tapi harus kukerjakan.
Perpustakaan.
Aku baru menyadari bahwa fokusku akan hadir ketika tak ada suara di sekitarku. Aku benar-benar menikmati momen kondusif dan hening di perpustakaan. Untuk sekedar mengerjakan tugas, atau berpikir tentang hal-hal yang aku inginkan. Aku berusaha untuk konsisten. Mencari-cari kesempatan untuk bisa terus hadir ke sana. Rasanya, ada yang menelisik. Suatu ketenangan. Hanya tercium bau buku-buku yang sedang dibuka, iringan musik klasik, instrumen-instrumen menyegarkan yang kudengarkan dari playlist pribadi.
Aku bukan menjauh. Aku sedang mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang ingin kurasakan. Tapi, aku juga tidak tahu apa itu. Aku memang lebih banyak diam. Entah mengapa. Aku penasaran, kenapa ada orang yang membicarakan segala hal yang baru saja terjadi di hadapannya. Jujur saja, aku kesal ketika ada yang mengajakku berbicara ketika aku sedang fokus mendengarkan. Jadi, jangan salahkan aku ketika aku menjadi seorang yang mengabaikanmu ketika aku sedang fokus pada sesuatu. Maaf.
Aku sedang ingin berdiskusi tentang berbagai hal. Diskusi tentang nilai-nilai kehidupan, setidaknya untuk bisa saling bertukar nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Aku ingin berdiskusi betapa aku ingin bisa menghargai orang lain. Menghargai mereka. Namun, aku merasa energiku terkuras habis ketika mendengarkan mereka, yang bagiku menyombongkan kesulitan-kesulitannya secara lantang.
Tapi, aku pun begitu. Aku ingin terus berusaha untuk tak seperti itu. Aku hanya butuh pengingat. Betapa seharusnya aku lebih dekat dengan-Nya. Betapa yang aku kejar dan cari selama ini nyatanya salah. Betapa overthinking-ku pada segala hal yang ada di bumi ini adalah salah. Aku seringkali merasa kebingungan dengan gambaran masa depan. Bagaimana nantinya? Akan jadi apa aku? Benarkah seperti ini?
Jadi, bantu aku

Tinggalkan komentar