Saya selalu ingin bercerita tentang hal-hal menarik yang terjadi di hari-hari saya seperti biasanya. Tentang teman-teman sekitar saya, yang kiranya mereka punya ‘turunan unik’ dari ‘spesies’-nya masing-masing. Terdengar lucu memang, tapi memang teman-teman saya ini agak ‘gesrek’ semua. Tentang hari-hari bagaimana saya menjalaninya.
Sore ini saya memutuskan untuk nge-net atau mencari jaringan internet (wifi) karena di kampus saya dilarang membawa handphone dan satu-satunya alat untuk update adalah dengan menggunakan laptop dan wifi yang telah disediakan kampus. Bisa dibilang, saya ini adalah orang yang nurut dan manut untuk urusan peraturan. Meski banyak dari kalangan teman saya yang memilih jalur ‘black market’, saya adalah satu dari sekian ratus mahasiswi yang masih jadul dalam urusan ‘black market’.
Kembali ke topik sore ketika saya pergi untuk nge-net. Ketika saya mulai menekan opsi jaringan, ternyata jaringannya tidak ada. Sudah biasa sekali mendapatkan hal seperti ini. Wifi hilang seperti yang saya alami hari ini bukanlah pertama kalinya melainkan keberkian kalinya. Perjalanan yang cukup jauh dari kamar saya membuat saya kecewa sekali. Hal tersebut dikarenakan satu-satunya fasilitas yang dibutuhkan untuk mencari informasi via jaringan hanya dari wifi yang disediakan universitas tersebut.
Beberapa minggu yang lalu, wifi mengalami gangguan selama satu hari penuh. Pada akhirnya saya tidak bisa membuka instagram, facebook, g-mail ataupun seluruh aplikasi yang harus menggunakan jaringan internet. Beberapa teman sesama wifi hunters juga merasa kesal dan kecewa karena hal itu. Sempat beberapa menyalahkan universitas mengenai hal tersebut, tapi sebenarnya tidak patut untuk menyalahkan. Jadi, yang saya dan teman-teman saya lakukan adalah bersabar dan menunggu perbaikan.
Hari ini pun terjadi lagi. Wifi mati dikarenakan mati lampu. Tapi, di sore yang mendung ini saya mensyukuri banyak hal dengan matinya wifi.
Tanpa matinya wifi, mungkin saya sudah disibukkan dengan melihat-lihat isi instagram, mencari berita-berita baru dan tak sempat untuk merefleksikan diri dengan menulis satu cerita kecil. Untunglah wifi mati. Karenanya saya bisa berbagi cerita, menikmati sore yang mendung dengan suasana yang hangat ditemani dengan lagu ballad yang berdengung di telinga saya.
Belajar menelan kekecewaan. Hal yang masih harus terus saya kembangkan secara pribadi. Mensyukuri setiap detik yang diberikan meski harus dengan perasaan kecewa adalah satu hal yang cukup berat bagi manusia dan saya harus belajar untuk bisa melatihnya.
Belajar dengan menerima kekecewaan berarti belajar untuk menerima keburukan dengan memetik hikmah segala kejadian dalam hidup. Manusia cenderung mudah kecewa dengan mengesampingkan hikmah yang tak nampak wujudnya. Maka, mari jadilah pribadi yang terus ingin belajar untuk selalu bisa mengambil hikmah dari kecewa yang kita alami.
Sama halnya seperti hari ini. Insiden ‘wifi mati’ yang menimpa saya adalah kekecewaan saya. Tapi, jika hati kita memutuskan untuk memandang dengan kacamata yang berbeda, mengambil sisi yang lebih baik untuk digambarkan, berjalan dengan tidak hanya memandang ke depan melainkan seluruh arah, maka yang terjadi adalah rasa syukur bahwa Allah menyadarkan kita tentang kecewa yang kita alami hari ini. Kecewa yang kita alami ini Allah jadikan sebagai tamparan pada kita bahwa segala sesuatu yang nampaknya mengecewakan pun pasti menghadirkan sebuah arti dan kebahagiaan, yaitu dengan hikmah dan penerimaan yang tulus.
Dari hati tentunya.
Gedung Al-Azhar, 30 Januari 2020
17.00 WIB

Tinggalkan komentar