Hari ini terpikirkan bahwa aku akan tetap baik saja
Bersahaja bergelora
Namun yang terjadi pada bagian dari diriku yang hilang justru benar-benar pucat
Memutih kian tak terlihat
Aku tak tahu apa yang hatiku katakan
Tentang semua lalu detik dan detak
Dimana gelisah kiranya hampiri tiap pekan
Dimana kiranya mata hatiku mengejar keterpurukan yang terus menggertak
Buntu
Saat ini terus bergelayut di hadapanku layaknya padang tandus luas tak berujung
Buntuku pada kenyataan bahwa aku sebenarnya terlalu naif untuk mengakui waktu
Yang sejatinya terus berlari meski tak peduli aku terus terpuruk dan sendiri mengujung
Air mata benar-benar tak mengizinkanku untuk menjatuh
Yang pada akhirnya hanya membeku menjadi kian pekat
Hingga pernah aku ingin bicara dengan gelora amarah dalam tubuh
Yang terus mengudara walau rasa cinta kian dekat
Yang kubutuh adalah kehadiran Tuhan dalam jiwaku
Yang kerapkali aku lupa bahwa hadir-Nya sangat berharga dibanding semesta
Yang kadangkala hanya terucap nama-Nya ketika aku dihadapkan pada rasa terpaku
Yang seringkali aku rindukan rahmat-Nya di ujung cinta
Hadirkan rasa luluh dibanding resah padaku, Tuhan
Agar aku tak benar-benar menjadi seorang pencumbu dunia
Yang selalu mengejar harta dan tahta yang terus bertahan
Dalam nadiku, aku ingin memeluk ayat-ayat-Mu
Pastikan aku

Tinggalkan komentar