Lalu Resah

Lalu Resah

Hari ini terpikirkan bahwa aku akan tetap baik saja

Bersahaja bergelora

Namun yang terjadi pada bagian dari diriku yang hilang justru benar-benar pucat

Memutih kian tak terlihat

Aku tak tahu apa yang hatiku katakan

Tentang semua lalu detik dan detak

Dimana gelisah kiranya hampiri tiap pekan

Dimana kiranya mata hatiku mengejar keterpurukan yang terus menggertak

Buntu

Saat ini terus bergelayut di hadapanku layaknya padang tandus luas tak berujung

Buntuku pada kenyataan bahwa aku sebenarnya terlalu naif untuk mengakui waktu

Yang sejatinya terus berlari meski tak peduli aku terus terpuruk dan sendiri mengujung

Air mata benar-benar tak mengizinkanku untuk menjatuh

Yang pada akhirnya hanya membeku menjadi kian pekat

Hingga pernah aku ingin bicara dengan gelora amarah dalam tubuh

Yang terus mengudara walau rasa cinta kian dekat

Yang kubutuh adalah kehadiran Tuhan dalam jiwaku

Yang kerapkali aku lupa bahwa hadir-Nya sangat berharga dibanding semesta

Yang kadangkala hanya terucap nama-Nya ketika aku dihadapkan pada rasa terpaku

Yang seringkali aku rindukan rahmat-Nya di ujung cinta

Hadirkan rasa luluh dibanding resah padaku, Tuhan

Agar aku tak benar-benar menjadi seorang pencumbu dunia

Yang selalu mengejar harta dan tahta yang terus bertahan

Dalam nadiku, aku ingin memeluk ayat-ayat-Mu

Pastikan aku

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai